BLITAR KAWENTAR - Wayang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh dunia. Karena itu, pemerintah khususnya di level daerah terus berupaya keras menjaga eksistensi seni dan budaya tradisional tersebut agar tidak tergerus oleh zaman. Dengan begitu, wayang tetap lestari dan selalu dikenal oleh generasi muda.
Setiap ritual bersih desa di sejumlah daerah, termasuk di Blitar, pergelaran wayang kulit selalu menjadi bagian yang tak boleh terpisahkan dalam rangkaian agenda acara tersebut. Pentas kesenian tradisional itu sudah menjadi budaya dan tradisi masyarakat Jawa.
Biasanya pentas wayang kulit digelar di puncak kegiatan bersih desa setiap tahunnya. Pentas digelar hingga semalam suntuk untuk menghibur masyarakat. Tradisi tersebut terus diselenggarakan demi menjaga kelestarian seni dan budaya bangsa Indonesia. Ya, berbagai cara terus dilakukan pemerintah daerah (pemda), tak terkecuali Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar untuk menjaga eksistensi wayang kulit.
Di tengah gempuran zaman yang serba canggih, kesenian wayang kulit harus tetap bertahan. Salah satu caranya dengan kolaborasi mengikuti perkembangan informasi serta teknologi.
Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), anggaran puluhan juta rupiah disiapkan untuk menggelar pagelaran wayang secara rutin pada tahun ini Plt Kepala Disbudpar Kota Blitar, Rike Rochmawati, mengatakan telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp60 juta untuk pembinaan dan pagelaran seni wayang. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung dua kali dalam setahun.
“Pagelaran wayang akan digelar pada Juni dalam rangka Hari Lahir Bung Karno dan November untuk memperingati Hari Wayang Nasional,” ujarnya ditemui Jumat (30/1). Dia menjelaskan, anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pementasan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pelestarian seni pewayangan. Menurutnya, seni wayang merupakan warisan budaya yang harus terus dihidupkan, terutama di era modern saat ini. “Ini menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk menghidupkan dan mempertahankan warisan budaya, khususnya seni pewayangan,” jelasnya.
Selain menyiapkan anggaran, Disbudpar Kota Blitar juga didukung tenaga fungsional kebudayawanan serta tenaga pendukung pelestari budaya. Pihaknya juga menyiapkan pendampingan melalui para seniman dan budayawan agar seni tradisional tetap berkembang dan diminati masyarakat.
"Kami di disbudpar juga memiliki tenaga fungsional budayawan dan tenaga pendukung pelestari budaya yang siap mendampingi seniman dan budayawan di Kota Blitar. Dengan berkolaborasi diharapkan seni dan budaya tetap lestari," pungkasnya.(*)