Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Fakta Mencengangkan, 70 Persen Pasien Kanker di Blitar Datang Periksa ke Klinik Kesehatan sudah Dalam Kondisi Stadium Lanjut

Fajar Ali Wardana • Rabu, 4 Februari 2026 | 11:06 WIB
dr Bintoro Hartanto S.H, Sp.B, SubSp.Onk.(K) Dokter Bedah Onkologi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
dr Bintoro Hartanto S.H, Sp.B, SubSp.Onk.(K) Dokter Bedah Onkologi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

BLITAR – Kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini kanker masih tergolong rendah. Hal itu terlihat dari mayoritas pasien kanker yang datang ke rumah sakit sudah berada pada stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat penanganan menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun.


Dokter Bedah Onkologi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr Bintoro Hartanto SH SpB SubSpOnk(K) mengungkapkan, secara statistik sekitar 70 persen pasien kanker di Indonesia datang berobat saat sudah memasuki stadium III. “Pasien kanker di Indonesia yang datang ke rumah sakit hanya sedikit dalam kondisi stadium awal, stadium I dan II, itu sekitar 30 persen. Sebagian besar baru periksa setelah muncul keluhan berat,” ujarnya.


dr Bintoro melanjutkan, kanker merupakan kondisi di mana terjadi mutasi genetik pada DNA sel sehingga sel tersebut tumbuh tanpa terkendali dan tidak bisa dimatikan oleh mekanisme alami tubuh. Pada kanker jenis tumor padat (solid), kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya benjolan yang tidak normal. “Tumor itu istilah umum untuk benjolan. Kalau tumor ganas, itu yang disebut kanker. Masih banyak masyarakat yang bingung membedakan tumor dan kanker,” jelasnya.


Menurut dr Bintoro, salah satu alasan keterlambatan pasien datang berobat adalah karena benjolan pada kanker stadium awal umumnya tidak menimbulkan nyeri. Akibatnya, banyak pasien menganggap keluhan tersebut sepele. Namun jika dalam kondisi infeksi biasanya menimbulkan nyeri sehingga harus segera diperiksa.

Sayangnya, kanker di stadium awal biasanya hanya benjolan tanpa rasa sakit. Baru datang setelah muncul luka, nyeri, atau bahkan sudah menyebar ke organ lain. “Kanker payudara sering ditemukan dalam kondisi lanjut. Awalnya hanya benjolan kecil, namun karena dibiarkan, akhirnya membesar, muncul luka, bahkan menyebar ke paru-paru yang ditandai dengan sesak napas atau batuk. Kondisi seperti itu sudah masuk stadium III atau IV,” imbuhnya.


dr Bintoro menyebut, kanker payudara masih menjadi jenis kanker terbanyak yang ditangani, terutama pada perempuan. Meski demikian, kanker payudara juga dapat terjadi pada laki-laki meskipun jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari total kasus. Terkait faktor risiko, dr Bintoro menegaskan bahwa kanker tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor genetik menjadi penyebab utama, disusul faktor lingkungan, kimia, dan biologi. “Paparan sinar ultraviolet tanpa pelindung meningkatkan risiko kanker kulit. Rokok dan alkohol meningkatkan risiko berbagai kanker. Infeksi virus seperti HPV dapat memicu kanker leher rahim dan hepatitis B atau C bisa menyebabkan kanker hati,” paparnya.


Karena itu, pencegahan kanker perlu dilakukan melalui pola hidup sehat dan disiplin. Mulai dari konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, tidur cukup, menghindari rokok dan alkohol, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. “Deteksi dini itu kunci. Benjolan sekecil apa pun jangan disepelekan. Periksa dulu, pastikan itu bukan kanker,” pungkasnya.(*)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#dr Bintoro Hartanto #RSUD Ngudi Waluyo #deteksi dini kanker #gejala kanker #kanker payudara