BLITAR - Dinas pendidikan (dispendik) akhirnya menyelesaikan proses seleksi penerima program bimbingan belajar (bimbel) gratis. Dari kurang lebih 80 pendaftar, sebanyak 42 siswa dinyatakan lolos di tahap awal seleksi administrasi.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar, Dindin Alinurdin mengatakan, proses seleksi administrasi telah dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi calon peserta berdasarkan data desil kesejahteraan.
“Pendaftar awalnya lebih dari 80 siswa. Setelah diverifikasi administrasi dan disesuaikan dengan data desil, kami ambil sampai desil empat. Hasilnya ada sekitar 42 siswa yang lolos,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (3/2).
Menurut dia, kuota program bimbel gratis tahun ini sebenarnya disiapkan hingga 200 peserta. Namun, pada tahap awal, dispendik hanya mengambil sekitar separo kuota karena sebagian peserta masih duduk di kelas XI dan akan diprioritaskan pada tahap berikutnya. “Untuk tahap ini kami ambil sebagian dulu. Tahapan selanjutnya tidak lagi melalui seleksi ak
ademik dan wawancara. Cukup verifikasi keseriusan peserta,” jelasnya.
Selain menyeleksi siswa, dispendik juga melakukan verifikasi terhadap lembaga bimbingan belajar (LBB) yang akan menjadi mitra. Saat ini, terdapat tujuh LBB yang telah diverifikasi dan dinyatakan siap mendukung program tersebut.
Program bimbel gratis ini akan difokuskan untuk persiapan masuk perguruan tinggi, termasuk seleksi nasional dan sekolah kedinasan. Masa bimbingan diperkirakan berlangsung sekitar dua bulan lebih, terutama menjelang pelaksanaan seleksi masuk perguruan tinggi pada April mendatang.
“Program ini kami harapkan bisa meningkatkan peluang siswa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ini juga bagian dari pembinaan pendidikan nonformal,” kata Dindin.
Selain membahas bimbel gratis, Dispendik Kota Blitar juga mulai mempersiapkan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran mendatang. Penetapan petunjuk teknis (juknis) ditargetkan rampung pada Februari dengan sejumlah evaluasi, terutama pada jalur prestasi dan penentuan kuota.
Di bidang lingkungan pendidikan, dispendik juga menyiapkan 11 sekolah jenjang SD dan SMP untuk mengikuti program Adiwiyata pada tingkat provinsi, nasional, hingga mandiri.
“Kami menekankan bahwa Adiwiyata bukan sekadar lomba, tapi harus menjadi kebiasaan sehari-hari di sekolah dan berdampak sampai ke lingkungan keluarga dan masyarakat,” pungkasnya.(*)