Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Melihat Gebrakan Anak Bupati Blitar Majukan Dunia Ekraf usai Pulang Merantau

Noormalady Usman • Rabu, 4 Februari 2026 | 14:00 WIB
Photo
Photo

BLITAR - Argo Wahyu Jati Kusumo, Anak Bupati Pilih Bangun Ekraf Blitar
Banyak Anak Muda Potensial, tapi Tidak Memiliki Alat dan Ruang
Langkah Argo Wahyu Jati Kusumo meninggalkan hiruk-pikuk Tangerang Selatan menuju Kabupaten Blitar bukanlah keputusan singkat. Hampir dua dekade hidup bolak-balik Jakarta–Blitar, putra sulung Bupati Blitar Rijanto itu akhirnya memilih pulang kampung. Bukan sekadar memenuhi permintaan orang tua, melainkan membawa gagasan besar: membangun ekosistem ekonomi kreatif dari akar rumput.


“Embrio ekonomi kreatif itu sudah ada di Blitar. Pelakunya banyak, hanya saja berjalan sendiri-sendiri,” ujar Argo mengawali perbincangan dengan Koran ini, beberapa waktu lalu.


Kabupaten Blitar dengan 22 kecamatan dan 248 desa menyimpan potensi kreatif yang tersebar. Mulai dari film, seni rupa, desain komunikasi visual, kriya, kuliner, hingga komunitas seni pertunjukan. Namun selama ini potensi itu belum terhubung dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.


Berangkat dari kegelisahan itu, Argo bersama sejumlah pegiat kreatif merintis Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Blitar. Prosesnya tak instan. Diskusi panjang, forum grup diskusi (FGD), hingga sambang ke komunitas satu per satu dilakukan untuk membangun kepercayaan.


“Kami lebih banyak silaturahmi dulu. Mengenalkan satu sama lain. Karena kalau tidak bareng-bareng, tujuannya tidak akan besar,” kata Argo yang kini dipercaya menjadi Ketua Komite Pelaksana Ekraf Kabupaten Blitar.
Komite ini mengadopsi nomenklatur dari tingkat provinsi dan daerah lain di Jawa Timur. Strukturnya terbagi dua: komite kebijakan yang melibatkan unsur birokrasi serta komite pelaksana yang diisi para pelaku ekraf lintas bidang, mulai dari komunitas, pendidik, hingga media.


Langkah awal mereka ditandai dengan gelaran Blitar Kolaborasi Art Festival di Pendapa Ronggowonegoro pada Desember lalu. Menariknya, acara ini digelar tanpa mengandalkan APBD. Seluruh pembiayaan dilakukan secara gotong royong oleh komunitas. “Bukan jualan yang kami kejar. Tapi saling kenal dan membangun ekosistem,” tegasnya.


Festival itu menghadirkan beragam wajah kreatif Blitar: komunitas film, kostum, tari, stand-up comedy, hingga pojok linting tembakau dari Selopuro. Banyak di antaranya baru pertama kali mendapat panggung eksposur luas.


Ke depan, Komite Ekraf tak ingin berhenti pada event. Target besarnya adalah membangun creative hub—ruang produksi bersama bagi anak-anak muda Blitar. Pilot project-nya berada di Rumah Blitar Kreatif (RBK) Wlingi yang disiapkan sebagai ruang produksi, latihan, pertunjukan, hingga displai produk kreatif.


“Banyak anak muda Gen Z punya skill, tapi terkendala alat dan ruang. RBK ini kami rancang sebagai ruang produksi bersama,” jelas Argo.
RBK Wlingi juga dirancang terhubung dengan jalur wisata, termasuk Sirah Kencong. Jika model ini berhasil, pengembangan akan merambah kawasan Penataran dan RTH Kanigoro.


Di tengah keterbatasan anggaran daerah, Komite Ekraf memilih strategi kolaborasi. Dengan bekal SK bupati, mereka membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta untuk menghidupkan ekosistem kreatif secara berkelanjutan.


Bagi Argo, ekonomi kreatif bukan sekadar tren. Dia melihatnya sebagai salah satu jalan meningkatkan ekonomi daerah, bahkan berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD). “Ini pengabdian. Apa pun latar belakang saya, yang terpenting adalah memberi manfaat untuk Blitar,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#Argo Wahyu Jati Kusumo #RBK Wlingi #Komite Ekraf Blitar #Ekraf Kabupaten Blitar #Ekonomi Kreatif Blitar