BLITAR KAWENTAR - Fenomena childfree atau keputusan pasangan suami istri untuk tidak memiliki anak kian mengemuka di tengah masyarakat, khususnya di kalangan milenial dan Generasi Z.
Pilihan hidup ini dinilai lahir dari beragam faktor, mulai dari tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap pola pengasuhan anak, hingga pergeseran nilai sosial yang menempatkan kebebasan dan pengembangan diri sebagai prioritas utama. Meski masih menuai kontroversi dan kerap dianggap bertentangan dengan norma budaya serta nilai keagamaan yang mengakar di Indonesia, tren childfree menunjukkan kecenderungan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Aktivis perempuan, Imey Chatrine Mufita menyebut, fenomena childfree tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial dan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini. Ketidakstabilan ekonomi membuat sebagian pasangan memilih menunda memiliki keturunan atau bahkan secara sadar memutuskan untuk tidak memiliki anak.
“Kondisi ekonomi yang belum pasti mendorong banyak pasangan untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk soal memiliki anak,” ujarnya. Berdasarkan data, pada 2019, proporsi perempuan yang memilih childfree tercatat sekitar 7 persen.
Angka tersebut sempat menurun menjadi 6,3 persen pada 2020, lalu kembali meningkat menjadi 6,5 persen pada tahun berikutnya. Sementara itu, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2022–2023 menunjukkan, sekitar 71.000 hingga 72.000 perempuan usia produktif 15–49 tahun di Indonesia memilih childfree secara sadar. Jumlah itu tidak termasuk perempuan yang tidak memiliki anak karena faktor medis. Tren ini tercatat meningkat dalam empat tahun terakhir.(*)