BLITAR KAWENTAR– Ancaman longsor akibat kikisan arus Kali Lekso kian meresahkan warga bantaran sungai di Kecamatan Wlingi.
Sedikitnya lebih dari 100 kepala keluarga (KK) di sejumlah kelurahan kini hidup dalam bayang-bayang bahaya, menyusul pergeseran alur sungai.
Koordinator warga bantaran Kali Lekso, Mustofa menyebut, kondisi Kali Lekso sudah mengalami pergeseran mencapai sekitar 150 meter dari posisi awal. Tentu mengancam keselamatan masyarakat.
Terutama di wilayah Kelurahan Babadan yang menjadi titik paling rawan saat ini. “Ini terkait keselamatan masyarakat. Kali Lekso sebenarnya sangat bermanfaat, tapi sekarang alirannya mengancam kehidupan kami. Tanah di pinggir sungai terus terkikis dan bisa membahayakan jiwa,” ujarnya.
Menurut Mustofa, arus deras sungai bukan menenggelamkan permukiman, melainkan mengikis tanah di bantaran hingga memicu longsor.
Di atas area yang tergerus itu sudah berdiri rumah-rumah warga, bahkan sebagian telah bersertifikat dan membayar pajak.
Dampak kikisan terjadi mulai dari hulu hingga hilir Kali Lekso. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Babadan, Beru, Tangkil, hingga ke arah selatan.
Khusus di Kelurahan Babadan diperkirakan lebih dari 50 KK terancam langsung. Jika dihitung sepanjang bantaran sungai, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 KK.
Warga sebenarnya sudah mengusulkan penanganan sejak beberapa tahun lalu. Namun saat itu diketahui kewenangan pengelolaan sungai berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Dia berharap normalisasi sungai bisa segera direalisasikan untuk mengembalikan alur sungai ke posisi semula dan mencegah longsor lebih lanjut.
“Kami sudah lama mengusulkan. Ternyata ini kewenangan BBWS. Alhamdulillah sekarang sudah direspons. OPD terkait seperti BPBD, bappeda, hingga BBWS sudah sepakat ini darurat dan perlu normalisasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BBWS Brantas, Arianto, mengatakan bahwa langsung turun ke lokasi bersama BPBD dan dinas PUPR untuk melakukan pengecekan lapangan.
Terkait rencana normalisasi, langkah awal adalah mengembalikan alur sungai seperti semula dan membangun tanggul pengaman.
“Hari ini (kemarin, Red) kami lihat lokasi yang dikeluhkan masyarakat. Mudah-mudahan ada tindak lanjut agar masyarakat bisa tenang. Kami normalisasi, kembalikan
alur awal dan pembuatan tanggul supaya masyarakat merasa aman,” katanya.
Arianto menilai pergeseran alur sungai lebih dipengaruhi faktor alam dan cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, sungai bersifat dinamis dan dapat mengubah jalur mengikuti kontur tanah yang lebih rendah.
Meski begitu, dia menegaskan, kewenangan pengelolaan sebagian anak sungai berada di Perum Jasa Tirta.
Jika pihak tersebut tidak lagi menangani, barulah BBWS mengambil alih. Dengan kondisi yang semakin mengkhawatirkan, warga berharap normalisasi segera dilakukan sebelum terjadi longsor besar yang benar-benar memakan korban.
“Sungai itu hidup. Alirannya bisa ke mana-mana. Cuaca akhir-akhir ini ekstrem. Itu yang memicu banyak kejadian banjir dan penggerusan tanah,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama