BLITAR KAWENTAR - Perjuangan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Blitar terhadap pendudukan Jepang pada Rabu dini hari, 14 Februari 1945, menginspirasi Bagus Putuparto tentang nilai perjuangan.
Pada 1992, bersama Barisan Seniman Muda Blitar yang didirikan pada 1 Oktober 1991, warisan sejarah di Kota Blitar itu dihidupkan kembali lewat seni pertunjukan.
Kala itu, 34 tahun lalu, seniman asal Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, ini menjadi sutradara dan penulis naskah drama kolosal perjuangan PETA Blitar yang pertama pada 14 Februari 1992. Area Monumen PETA Blitar dijadikan panggung pementasan.
Generasi muda yang tergabung dalam kelompok seni teater kampus dan sekolah juga dilibatkan.
“Waktu itu terinspirasi drama kolosal 10 November di Surabaya, di mana Bung Tomo diangkat sebagai ikon perjuangan. Di Blitar, saya mencari, menggali, dan mengangkat Soeprijadi menjadi satu ikon perjuangan yang patriotik,” ungkapnya.
Untuk mendapatkan gambaran peristiwa heroik itu, Bagus mewawancarai pengurus YAPETA dan tokoh PETA Blitar yang masih hidup, salah satunya Shodanco Parto Hardjono yang memiliki peran mengibarkan Sang Merah Putih.
Berbekal riset lapangan dan referensi sejarah, dia membangun adegan yang lebih treatikal, sastrawi, dan dramatis dengan segala keterbatasannya.
“Bukan realis sekali, tapi indah dengan bentuk visualnya,” jelasnya.
Kekuatannya juga didukung pendekatan karya sastra puisi sezaman dari Chairil Anwar dan Usmar Ismail untuk mendapatkan gambaran realitas masa pendudukan Jepang.
Bagus juga merasa bangga kini drama kolosal menjadi agenda tahunan Kota Blitar dan terus berkembang saat dipegang Redi Wisono dkk.
Akhir pekan ini, drama kolosal digelar pada Sabtu (14/2) malam dengan lakon “Alap-Alap Daidan PETA Blitar” di Taman Plaza Museum PETA Kota Blitar. (*/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah