BLITAR KAWENTAR - Pada 13 Februari 1014 silam, Gunung Kelud meletus. Peristiwa itu masih membekas kuat di ingatan masyarakat Blitar. Pasalnya, letusan tersebut termasuk yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir, bahkan disebut lebih dahsyat dibandingkan erupsi pada 1990.
Dentuman keras disertai sambaran kilat dan lontaran material vulkanik kala itu membuat warga di sekitar lereng gunung dan wilayah sekitarnya diliputi waswas.
Material letusan Gunung Kelud tidak hanya menyebar ke satu arah. Perubahan arah angin membuat sebaran abu vulkanik meluas ke berbagai wilayah. Awalnya, material letusan lebih banyak mengarah ke barat daya gunung, termasuk hingga wilayah Jawa Tengah.
Pergeseran angin membawa abu vulkanik hingga ke arah timur, menjangkau Surabaya dan daerah sekitarnya.
Meski demikian, dampak letusan di wilayah Blitar relatif lebih ringan dibandingkan erupsi sebelumnya.
Blitar hanya mengalami hujan abu dan kerikil dalam intensitas yang tidak terlalu tebal. Kondisi ini berbeda jauh dengan peristiwa letusan 1990 yang sempat menyebabkan kerusakan cukup parah di hampir seluruh Blitar.
Walaupun dampaknya tergolong ringan, sebagian warga Blitar tetap memilih mengungsi sebagai langkah antisipasi.
Supianto, warga Kecamatan Udanawu, mengaku membawa keluarganya mengungsi ke wilayah Tulungagung saat terjadi erupai. “Saat meletus, keluarga saya mengungsi ke wilayah Tulungagung,” kenangnya.
Namun, Supianto memilih tetap tinggal di rumah untuk menjaga rumah dan harta benda lainnya. Istri, anak, dan cucunya mengungsi, sementara dia bertahan di rumah sambil memantau kondisi sekitar. “Kalau saya tidak ikut mengungsi. Jadi hanya istri, anak, dan cucu saya saja. Saya jaga rumah sambil lihat kondisi," sambungnya.
Dia bersyukur karena letusan Gunung Kelud kala itu tidak membawa dampak besar bagi wilayah Blitar. Lingkungan sekitar rumahnya masih relatif aman dan tidak mengalami kerusakan berarti. “Alhamdulillah waktu itu letusan Gunung Kelud di Blitar tidak parah,” ungkapnya.
Keesokan harinya, Supianto langsung membersihkan sisa abu dan material vulkanik yang memenuhi atap dan dinding rumah serta halaman. “Jadi keesokan harinya saya sudah mulai bersih-bersih,” pungkasnya. (kho/c1/ady)