Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenang Perjuangan Shodanco Moeradi, Komandan Pertempuran PETA Blitar, Pimpin Pasukan Paling Kuat

Yanu Aribowo • Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:05 WIB
PAHLAWAN: Ferry Riyandika saat menunjukkan foto wajah Shodanco Moeradi yang merupakan tokoh penting dalam perjuangan PETA Blitar.
PAHLAWAN: Ferry Riyandika saat menunjukkan foto wajah Shodanco Moeradi yang merupakan tokoh penting dalam perjuangan PETA Blitar.

 

BLITAR KAWENTAR - Momen Rabu dini hari, 14 Februari 1945 di Kota Blitar, menjadi salah satu pelecut semangat mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Shodanco Soeprijadi bersama pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Blitar berjuang melawan pendudukan Jepang.

Banyak sosok penting yang terlibat dalam perjuangan tersebut. Salah satunya, Shodanco Moeradi yang berperan sebagai komandan pertempuran di lapangan, orang nomor dua dalam gerakan perjuangan tersebut.

Moeradi merupakan salah satu di antara empat orang yang menginisiasi perjuangan melawanan pendudukan Jepang. Dia hadir dalam pertemuan rahasia pertama di kamar tidur Bundanco Halir Mangkoedidjaja.

Selain Moeradi dan Halir, pertemuan awal itu dihadiri Soeprijadi dan Shodanco Soemardi.

“Shodanco Moeradi orang asli kelahiran Blitar. Saat itu, usianya sekitar 21 tahun yang lahir pada 29 Agustus 1923,” jelas guru sejarah MAN Kota Blitar, Ferry Riyandika.

Usai meletusnya perlawanan pukul 03.30 WIB, Moeradi bergerak bersama pasukan kelompok barat berkolaborasi dengan Shondaco Soeparjono dan Shodanco S. Jono.

Pasukan yang dipimpin tiga Shodanco ini berkuatan sekitar 200 prajurit, yang merupakan pasukan paling kuat, baik personel maupun persenjataannya. Namun, pasukan ini harus mengakhiri perlawanannya setelah taktik licik Jepang di kawasan Hutan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1945.

Shodanco Moeradi saat melancarkan aksinya berkedudukan sebagai Wakil (Fukukan) Kepala Asrama PETA Blitar.

Sebelum bergerak ke wilayah barat, menyusuri wilayah Kecamatan Sanankulon, Kecamatan Ponggok, hingga Kecamatan Ngancar, pasukan kelompok barat ini terlebih dahulu bergerak di dalam Kota Blitar.

Perannya adalah menyergap kediaman perwira pelatih (shidokan) yang terletak di belakang Sekolah Guru Perempuan (SGP) yang saat ini merupakan kawasan Kampus 3 Universitas Negeri Malang (UM) di Kota Blitar.

Lalu dilanjutkan membebaskan para tahanan di penjara dan memblokir para tentara Jepang yang hendak mengungsi ke luar kota melalui Stasiun Kereta Api (KA) Blitar.

Saat di Hutan Ngancar, selama bersitegang dengan pasukan di bawah komando Jepang yang mengepung di segala penjuru arah mata angin, pihak Jepang segera mendatangkan Mbah Bendo dan H. Simitzu, pelatih berkebangsaan Jepang di Bogor Renetai dalam perundingan alot.

Pasalnya, Jepang tahu Shodanco Moeradi adalah murid kesayangan dua tokoh tersebut. Akhirnya, Moeradi memilih berhenti melakukan perlawanan dengan dua di antara empat syaratnya tidak ada tuntutan untuk mengganti kerugian maupun tuntutan hukum dan perlakuan yang wajar dari pihak Jepang terhadap PETA Blitar.

Namun, usai perlawanan bisa dipadamkan, mereka harus mempertanggungjawabkan perjuangan tersebut.

Moeradi juga ikut menjalani Pengadilan Militer Jepang di Jakarta pada 13, 14, dan 16 April 1945. Dia dijatuhi hukuman mati bersama Cudanco dr Ismangil, Soeparjono, Halir, Bundanco Soenanto, dan Bundanco Soedarmo.

Eksekusi hukuman mati berlangsung di kawasan pesisir Ancol, Jakarta, pada 16 Mei 1945. Kerangka para pahlawan tersebut baru ditemukan pada 1970 dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. (ynu/c1)

Editor : M. Subchan Abdullah
#perjuangan #sejarah #Shodanco Soeprijadi #Shodanco Moeradi #Pasukan Pembela Tanah Air #PETA Blitar