JAKARTA – Strategi bisnis Persija Jakarta tengah jadi sorotan publik sepak bola nasional. Di tengah euforia transfer mewah dan cibiran rival, Macan Kemayoran menjelma menjadi salah satu klub dengan belanja terbesar musim ini. Transformasi itu bukan terjadi dalam semalam, melainkan hasil perencanaan matang yang melibatkan sponsor BUMD DKI hingga dukungan korporasi besar.
Strategi bisnis Persija Jakarta terlihat jelas dari agresivitas mereka pada bursa transfer tengah musim. Tujuh pemain baru didatangkan dengan total nilai mencapai Rp36,49 miliar. Angka itu bahkan melampaui belanja rivalnya, Persib Bandung, yang mengeluarkan sekitar Rp22,60 miliar untuk lima pemain.
Strategi bisnis Persija Jakarta tak hanya soal belanja pemain, tetapi juga tentang bagaimana klub ibu kota itu menghimpun pemasukan di tengah badai sindiran. Sebagian rival menyebut Persija sebagai “klub APBD”, merujuk pada dukungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta.
Baca Juga: Dalberto Mandul 2 Bulan, Posisi Striker Arema FC Berubah hingga Klub Kembali Disanksi Komdis PSSI
Transfer Mewah dan Nilai Skuad Melonjak
Nama-nama besar merapat ke ibu kota. Mulai dari pemain yang pernah satu tim dengan Lionel Messi di Inter Miami, hingga eks pemain kompetisi Eropa. Kehadiran amunisi asing dan diaspora membuat nilai skuad Persija melonjak drastis.
Kini, Persija dinobatkan sebagai klub dengan nilai skuad termahal kedua di Liga 1, tepat di bawah Persib. Total valuasi tim disebut menembus Rp15 miliar, dengan kontribusi besar dari rekrutan Januari.
Langkah ini menegaskan ambisi manajemen untuk keluar dari bayang-bayang rival dan menargetkan gelar juara dalam waktu dekat.
Baca Juga: Start Mentereng Putaran Kedua, Arema FC Pagari Gabriel Silva Usai Jadi Kunci Kebangkitan Singo Edan
Peran BUMD dan Sponsor Swasta
Di balik gebrakan transfer tersebut, dukungan sponsor menjadi kunci. Sejumlah BUMD DKI Jakarta seperti Bank Jakarta, PAM Jaya, Transjakarta, hingga MRT Jakarta resmi menjadi sponsor klub musim ini. Target komersialisasi dari kerja sama itu disebut mencapai Rp7 miliar.
Selain BUMD, Persija juga mendapat dukungan perusahaan swasta nasional dan asing. Perusahaan tambang hingga pabrikan otomotif asal Korea Selatan turut masuk dalam daftar sponsor.
Dukungan pemerintah daerah tak lepas dari peran Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia secara terbuka menyatakan ambisi agar Persija bisa menjadi juara pada 2027, bertepatan dengan 500 tahun usia Jakarta.
Bahkan, ada kebijakan keringanan pajak tontonan hingga 60 persen. Dengan aturan baru itu, Persija hanya membayar pajak sebesar 4 persen kepada pemerintah provinsi. Kebijakan tersebut membuat manajemen lebih leluasa mengelola pendapatan dari tiket dan komersial.
Di Balik Layar: PT Persija Jaya dan Nirwan Bakrie
Pengelolaan klub tetap berada di tangan PT Persija Jaya (PJJ), yang sejak 2018 sahamnya dikuasai penuh oleh Nirwan Bakrie melalui Bakrie Group.
Nirwan bukan sosok baru di sepak bola nasional. Ia dikenal sebagai pelopor konsep government-backed football, model pendanaan klub dengan dukungan pemerintah daerah yang populer di era 1990-an.
Kolaborasi antara Bakrie Group dan Pemprov DKI Jakarta inilah yang kini memunculkan pro dan kontra. Sebagian menilai sinergi tersebut sebagai langkah bisnis yang sah dan saling menguntungkan. Namun ada pula yang khawatir potensi konflik kepentingan di baliknya.
Target Juara dan PR Mauricio Souza
Ambisi besar sudah dipasang: juara Liga 1 pada 2027 dan tampil di kompetisi Asia. Namun, belanja mahal tak otomatis menjamin prestasi.
Di bawah asuhan Mauricio Souza, performa Persija masih inkonsisten. Kekalahan kandang dari Arema menjadi alarm bahwa racikan taktik harus segera dibenahi.
Manajemen kini dituntut memastikan stabilitas internal: gaji tepat waktu, akademi berjalan, serta rekrutmen pemain dan pelatih dilakukan secara terukur.
Peluang atau Bumerang?
Strategi bisnis Persija Jakarta berbasis kolaborasi pemerintah dan swasta bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola profesional. Namun tanpa transparansi dan kontrol publik, model ini berisiko menjadi bumerang.
Sejarah sepak bola Indonesia menunjukkan banyak klub berjaya berkat dana pemda, lalu terpuruk ketika sokongan berhenti. Persija tentu tak ingin mengulang kisah itu.
Pada akhirnya, sumber dana bukanlah isu utama. Kunci keberhasilan terletak pada tata kelola modern, profesionalisme, dan visi jangka panjang. Jika manajemen mampu menjaga keseimbangan antara ambisi dan akuntabilitas, bukan mustahil Persija benar-benar mengakhiri penantian panjangnya dengan trofi juara.
Editor : Divka Vance Yandriana