JAKARTA – Antusiasme publik terhadap tiket Piala Dunia 2026 melonjak drastis. Federasi sepak bola dunia mencatat permintaan tiket Piala Dunia 2026 telah menembus angka fantastis lebih dari setengah miliar lembar. Lonjakan minat terhadap tiket Piala Dunia 2026 ini disebut sebagai rekor baru dalam sejarah turnamen sepak bola empat tahunan tersebut.
Tingginya permintaan tiket Piala Dunia 2026 mencerminkan besarnya perhatian publik dunia terhadap ajang olahraga paling prestisius itu. Namun, di balik euforia perburuan tiket Piala Dunia 2026, muncul kekhawatiran baru terkait akses masuk ke negara tuan rumah, terutama Amerika Serikat.
Turnamen yang akan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, diprediksi menjadi salah satu edisi terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia. Meski demikian, kebijakan imigrasi Amerika Serikat dinilai berpotensi menyulitkan sebagian pendukung sepak bola yang ingin menyaksikan pertandingan secara langsung.
Permintaan Tiket Pecahkan Rekor Baru
Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan rasa terima kasih kepada para penggemar sepak bola dari seluruh dunia yang telah menunjukkan antusiasme luar biasa. Ia menyebut lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA ikut menyukseskan momentum besar tersebut.
Menurut Infantino, tingginya minat pembelian tiket menjadi bukti bahwa Piala Dunia masih menjadi magnet global. Permintaan tiket yang mencapai ratusan juta lembar menunjukkan daya tarik sepak bola yang mampu menyatukan berbagai negara dan budaya.
Turnamen ini dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dengan jumlah pertandingan lebih banyak dibanding edisi sebelumnya. Format baru tersebut membuat kebutuhan tiket meningkat drastis, sekaligus memperluas peluang penonton menyaksikan pertandingan secara langsung.
Kebijakan Visa Jadi Tantangan Penonton
Meski permintaan tiket melonjak, para penonton dihadapkan pada persoalan administratif, terutama terkait kebijakan visa masuk ke Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat disebut memperluas daftar pembatasan perjalanan bagi warga dari sejumlah negara.
Kebijakan tersebut diberlakukan sejak pertengahan 2025 dan mencakup sedikitnya 75 negara. Ironisnya, sekitar 15 negara yang terdampak pembatasan tersebut justru merupakan peserta Piala Dunia 2026.
Negara-negara tersebut di antaranya Iran, Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Maroko, Tunisia, Uruguay, Uzbekistan, serta beberapa negara Afrika dan Timur Tengah lainnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran para penggemar sepak bola yang berpotensi gagal hadir langsung di stadion.
Kebijakan imigrasi tersebut dikaitkan dengan langkah pemerintah yang dipimpin Presiden Donald Trump dalam memperketat pengawasan perjalanan internasional. Pemerintah menyatakan kebijakan itu bertujuan menjaga keamanan nasional dan mencegah penyalahgunaan sistem imigrasi.
Tiket Tidak Menjamin Akses Masuk Negara Tuan Rumah
FIFA menegaskan kepemilikan tiket pertandingan tidak otomatis menjamin izin masuk ke negara tuan rumah. Organisasi tersebut mengimbau calon penonton agar mengurus dokumen perjalanan sedini mungkin.
Calon penonton diwajibkan memiliki paspor yang masih berlaku minimal enam bulan sejak tanggal kedatangan. Selain itu, sejumlah mekanisme khusus juga disiapkan bagi pemegang tiket.
FIFA menyediakan sistem penjadwalan janji temu prioritas atau FIFA Pass untuk membantu pengurusan dokumen perjalanan. Namun, penggunaan fasilitas tersebut tetap harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi yang ditetapkan pemerintah Amerika Serikat.
Pengunjung dari negara tertentu dapat memanfaatkan program bebas visa melalui sistem Electronic System for Travel Authorization (ESTA). Sementara itu, penonton dari negara lain diwajibkan mengurus visa kunjungan jenis B1/B2.
Antusiasme Tinggi, Tantangan Logistik Mengintai
Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola internasional dengan jumlah peserta yang meningkat. Format baru tersebut membuat kebutuhan logistik, termasuk transportasi, akomodasi, dan keamanan, semakin kompleks.
Tingginya permintaan tiket menunjukkan potensi keuntungan ekonomi besar bagi negara tuan rumah. Namun, tantangan administratif seperti visa, regulasi perjalanan, serta dinamika geopolitik global diperkirakan turut memengaruhi kelancaran penyelenggaraan turnamen.
Pengamat menilai kesiapan infrastruktur dan koordinasi antarnegara menjadi faktor penting dalam menyukseskan ajang olahraga global tersebut. Di sisi lain, antusiasme penonton dunia menjadi sinyal kuat bahwa sepak bola tetap memiliki daya tarik universal.
Hingga kini, FIFA terus mendorong kerja sama dengan pemerintah negara tuan rumah untuk memastikan seluruh penggemar dapat menikmati pertandingan secara aman dan nyaman. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Piala Dunia 2026 tetap diharapkan menjadi pesta sepak bola terbesar yang mampu mempertemukan jutaan penggemar dari berbagai belahan dunia.
Editor : Novica Satya Nadianti