BLITAR KAWENTAR – Wilayah Blitar Selatan sebenarnya sedang bersiap menyongsong panen raya cabai pada Maret mendatang.
Namun, hamparan lahan seluas 7.000 hektare yang siap dipetik tersebut, kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan dan terancam gagal panen. Situasi itu menyusul merebaknya serangan penyakit tanaman yang mengancam produktivitas cabai.
Kabid Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Fauzia Laame mengonfirmasi, kendala pada sisi produksi ini menjadi pemicu utama prediksi lonjakan harga cabai menjelang Ramadan.
Padahal, dari sisi luasan lahan, Blitar Selatan memiliki potensi pasokan yang sangat melimpah untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Berdasarkan data pantauan lapangan, ada potensi panen raya di wilayah Blitar Selatan pada Maret dengan luasan mencapai kurang lebih 7.000 hektare. Namun saat ini tanaman petani justru sedang terserang penyakit," ungkapnya.
Kondisi ini menciptakan situasi yang ironis. Di satu sisi, luas lahan 7.000 hektare seharusnya mampu menjadi tumpuan stabilitas harga cabai di tingkat daerah maupun regional.
Di sisi lain, serangan penyakit yang terjadi tepat menjelang masa panen membuat volume hasil petikan petani diprediksi tidak akan maksimal atau bahkan terancam gagal panen.
Fauzia menjelaskan, penurunan hasil panen ini akan langsung berdampak pada dinamika harga di tingkat konsumen.
Ketika pasokan dari lahan seluas itu menyusut akibat penyakit, sementara permintaan masyarakat meningkat tajam menyambut bulan suci, maka lonjakan harga menjadi sulit terhindarkan.
"Karena panenannya sedikit akibat penyakit, cabai diprediksi akan naik harganya saat Ramadan nanti," tambahnya.
Saat ini, dinas terus memantau perkembangan di lapangan guna melihat sejauh mana dampak serangan penyakit tersebut terhadap total output cabai di Blitar Selatan.
Situasi ini menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan, mengingat Blitar Selatan merupakan salah satu produsen cabai yang selama ini menyokong kebutuhan pangan.(kho/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah