Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Usia 10 Tahun, Dyera Harumkan Blitar Lewat Mahkota Duta Budaya Cilik Jatim 2026

Anggi Septian A.P. • Selasa, 17 Februari 2026 | 19:08 WIB
Dyera, siswi MI asal Blitar, raih Duta Budaya Cilik Jatim 2026 dan siap promosikan budaya daerah.
Dyera, siswi MI asal Blitar, raih Duta Budaya Cilik Jatim 2026 dan siap promosikan budaya daerah.

RADAR BLITAR – Usianya baru 10 tahun. Namun langkah dan mimpinya sudah melampaui batas kota kelahirannya.

Dyera Eleanor Al Farabi, siswi kelas V MI Perwanida Kota Blitar, sukses meraih gelar Pemenang Duta Budaya Cilik Jawa Timur 2026 dalam ajang Pemilihan Duta Budaya Cilik Jawa Timur 2026 yang digelar di Gedung Cak Durasim, Surabaya, 14–16 Februari 2026.

Bagi Dyera, kemenangan itu bukan sekadar mahkota dan selempang. Ia menyebutnya sebagai tanggung jawab untuk lebih mencintai dan mengenalkan budaya daerahnya.

“Saya senang sekali bisa membawa nama Blitar. Saya ingin lebih banyak anak-anak yang bangga dengan budayanya sendiri,” ujar Dyera saat ditemui di rumahnya di Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro.

Ajang yang diikutinya dikenal sebagai salah satu kompetisi budaya anak paling bergengsi di Jawa Timur.

Selama lima hari, peserta menjalani rangkaian pra-karantina, karantina, hingga grand final. Mereka diuji wawasan, kepercayaan diri, hingga kemampuan mempresentasikan budaya daerah masing-masing.

Dyera mengaku persiapannya tidak singkat. Ia memulai latihan jauh sebelum hari pelaksanaan. Sepulang sekolah, waktunya tak hanya diisi dengan bermain. Ia membagi jadwal antara belajar, berlatih menari, modeling, serta public speaking.

“Biasanya setelah pulang sekolah saya istirahat sebentar, lalu latihan menari. Malamnya belajar materi budaya dan latihan berbicara,” tuturnya.

Sebagai anak asli Blitar, Dyera memilih memperdalam budaya daerahnya sendiri. Ia mempelajari peninggalan sejarah, ragam kuliner khas, kesenian tradisional, hingga tempat wisata yang menjadi kebanggaan masyarakat Blitar.

“Saya belajar tentang sejarah di Blitar, makanan khas, kesenian seperti tari tradisional, juga tempat wisata yang sering dikunjungi orang. Saya ingin menjelaskan semuanya dengan percaya diri,” katanya.

Menurut Dyera, tantangan terberat bukan pada materi, melainkan mengatur waktu. Ia harus tetap menjaga prestasi di sekolah sekaligus fokus berlatih.

“Saya tidak mau nilai sekolah turun. Jadi saya tetap belajar seperti biasa. Kalau ada tugas, saya kerjakan dulu sebelum latihan,” ujarnya.

Di panggung grand final, Dyera tampil mengenakan busana batik koi khas Blitar yang didesain dengan penuh glamor.

Ia mempresentasikan budaya Blitar dengan suara lantang dan ekspresi yang meyakinkan. Ia juga memperagakan unsur seni daerah yang telah dilatih berulang kali.

“Saya sempat gugup, tapi saya ingat tujuan saya datang ke sana untuk membawa nama Blitar. Jadi saya berusaha tenang dan percaya diri,” katanya.

Ia juga mengaku senang bisa bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah di Jawa Timur.

“Saya jadi tahu budaya dari daerah lain. Ternyata semuanya punya keunikan masing-masing. Itu membuat saya semakin bangga dengan budaya sendiri,” ungkapnya.

Bagi Dyera, budaya bukan sekadar materi lomba. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut melestarikannya.

“Sekarang banyak anak-anak yang lebih suka budaya luar. Saya ingin menunjukkan bahwa budaya kita juga tidak kalah keren,” ucapnya.

Kemenangan ini menjadi pengalaman berharga dalam hidupnya. Namun Dyera tidak ingin cepat berpuas diri. Ia justru ingin terus belajar dan mengembangkan diri.

“Saya ingin terus belajar menari dan berbicara di depan umum. Kalau ada kesempatan lomba lagi, saya ingin ikut lagi,” katanya penuh semangat.

Ia berharap prestasinya bisa menginspirasi teman-teman seusianya agar berani bermimpi dan berusaha.

“Jangan takut mencoba. Kalau kita rajin latihan dan percaya diri, pasti bisa,” tuturnya.

Di balik usianya yang masih belia, Dyera menunjukkan kedewasaan dalam berpikir. Ia memahami bahwa gelar Duta Budaya Cilik bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga komitmen menjaga warisan daerah.

“Saya ingin menjadi contoh yang baik. Saya ingin terus mengenalkan budaya Blitar ke mana pun saya pergi,” katanya.

Dari Desa Gaprang, langkah kecil Dyera kini telah menjangkau panggung Jawa Timur. Dengan kerja keras dan kecintaannya pada budaya, ia membuktikan bahwa anak daerah pun mampu bersinar. Dan bagi Dyera, perjalanan ini baru saja dimulai.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Duta Budaya Cilik Jatim 2026 #Dyera Eleanor Al Farabi #MI Perwanida Blitar