Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Disnakkan Ungkap Fakta Kondisi Sektor Perikanan di Kabupaten Blitar Ketika Harga Pakan Tak Sebanding Harga Jual

Akhmad Nur Khoiri • Rabu, 18 Februari 2026 | 11:07 WIB
Harga Pakan Tak Sebanding Harga Jual Tantangan Sektor ‎Perikanan Jadi Pilar Ekonomi Daerah Sepanjang 2025, Produksi Ikan Konsumsi Capai 17.736 Ton
Harga Pakan Tak Sebanding Harga Jual Tantangan Sektor ‎Perikanan Jadi Pilar Ekonomi Daerah Sepanjang 2025, Produksi Ikan Konsumsi Capai 17.736 Ton

BLITAR KAWENTAR – Sektor perikanan di Kabupaten Blitar terus menunjukkan taji dan menggeliat sebagai salah satu pilar ekonomi daerah.

Namun, dua subsektor utamanya, yakni ikan konsumsi dan ikan hias, memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda sepanjang 2025.

Di lapangan, salah satu tantangannya adalah harga pakan sering kali tidak sebanding dengan harga jual di pasar.


‎Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, Deki Nusa Asmara mengungkapkan, meski keduanya sama-sama mengalami kenaikan produksi, masing-masing memiliki "nilai kemenangan" yang berbeda.

‎"Sepanjang 2025, produksi ikan konsumsi kita mencapai 17.736 ton. Secara volume memang terlihat jauh lebih kecil dibanding angka ikan hias, namun nilai produksinya sangat fantastis mencapai lebih dari Rp 429,8 miliar," ujarnya.


‎Di sisi lain, sektor ikan hias menunjukkan dominasi dari segi kuantitas yang luar biasa.

Dengan ikon utama ikan koi, Blitar berhasil memproduksi 205.230.494 ekor ikan hias dengan nilai produksi sebesar Rp 213,9 miliar.

Jika dibandingkan dengan 2024, terdapat kenaikan produksi sebanyak 403.421 ekor untuk ikan hias dan 435 ton untuk ikan konsumsi.


‎Deki menjelaskan, perbedaan mencolok ini disebabkan oleh target pasar dan siklus budi daya. Ikan konsumsi seperti nila, lele, gurami, dan patin sangat bergantung pada berat (tonase) dan efisiensi pakan.

Sementara ikan hias, khususnya koi, lebih mengandalkan kualitas genetik dan estetika per ekornya.

‎"Ikan konsumsi menjadi tumpuan ketahanan pangan lokal yang tersebar di sentra seperti Wonodadi dan Srengat.

Sedangkan ikan hias menjadi komoditas kebanggaan yang berpusat di Nglegok dan Sanankulon, yang bahkan sudah memenuhi standar persyaratan ekspor," tambahnya.


‎Meski angka-angka ini terlihat gemilang, Deki tidak menampik adanya tantangan besar di kedua sektor tersebut.

Kendala utama yang menghantui para pembudi daya, baik konsumsi maupun hias, adalah tingginya harga pakan yang sering kali tidak sebanding dengan harga jual di pasar.

Selain itu, penurunan kualitas sumber air juga menjadi ancaman nyata.‎ "Kualitas air seperti suhu, pH, dan kadar amonia sangat menentukan.

Kami terus mendorong pembudi daya untuk mulai mengadopsi teknologi seperti sistem Bioflok atau RAS agar efisiensi pakan meningkat dan risiko kegagalan akibat lingkungan bisa ditekan," pungkasnya. (kho/c1/ynu)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#Ekonomi Blitar #Deki Nusa Asmara #ikan koi blitar #perikanan blitar #disnakkan kabupaten blitar