Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Weton Pahing Saat Bulan Puasa: 4 Pantangan Penting Menurut Primbon Jawa, Nomor 4 Paling Sering Dilanggar!

Izahra Nurrafidah • Jumat, 20 Februari 2026 | 20:25 WIB

Weton Pahing Saat Bulan Puasa: 4 Pantangan Penting Menurut Primbon Jawa, Nomor 4 Paling Sering Dilanggar!
Weton Pahing Saat Bulan Puasa: 4 Pantangan Penting Menurut Primbon Jawa, Nomor 4 Paling Sering Dilanggar!
BLITAR - Weton Pahing saat bulan puasa menjadi sorotan dalam kajian primbon Jawa yang kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam kepercayaan leluhur Jawa, setiap weton memiliki karakter dan energi batin yang berbeda. Bagi pemilik weton Pahing, Ramadan disebut sebagai momen ujian yang lebih halus namun berdampak panjang jika tidak dijalani dengan laku yang tepat.

Pembahasan mengenai weton Pahing saat bulan puasa ini menekankan adanya empat pantangan penting. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat agar langkah hidup tetap selaras, rezeki lancar, dan hubungan sosial terjaga harmonis. Karakter Pahing yang dikenal kuat, tegas, dan berkemauan keras justru dinilai perlu pengendalian ekstra selama bulan suci.

Menurut primbon Jawa, energi besar yang dimiliki weton Pahing bisa menjadi berkah atau sebaliknya, tergantung bagaimana mengelolanya. Berikut empat pantangan yang dipercaya perlu diperhatikan.

Jangan Biarkan Emosi Meledak

Pantangan pertama bagi weton Pahing saat bulan puasa adalah membiarkan amarah menguasai diri. Pahing dikenal memiliki karakter tegas dan gengsi tinggi. Di luar Ramadan, sifat ini bisa menjadi kekuatan dalam memperjuangkan sesuatu. Namun saat puasa, energi batin sedang dalam proses penjernihan.

Ledakan emosi, terutama yang dipendam lalu meletup di waktu yang tidak tepat, dipercaya dapat mengganggu getaran rezeki dan memicu konflik berkepanjangan, baik dalam keluarga maupun pekerjaan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan gejolak batin.

Laku yang dianjurkan adalah memperbanyak sabar dan introspeksi. Jika merasa tersinggung atau tidak dihargai, sebaiknya menahan diri dan merenung sebelum mengambil keputusan. Mengendalikan emosi menjadi kunci pertama agar keberkahan tetap mengalir.

Hindari Ambisi Berlebihan Mengejar Materi

Pantangan kedua berkaitan dengan ambisi materi. Weton Pahing dikenal memiliki daya juang tinggi dan naluri kuat dalam melihat peluang rezeki. Sifat ini pada dasarnya positif, namun saat bulan puasa orientasi hidup dianjurkan lebih condong pada keseimbangan spiritual.

Terlalu ambisius mengejar keuntungan, apalagi mengambil keputusan finansial secara tergesa-gesa, dipercaya dapat membuat energi menjadi tidak selaras. Bukan berarti dilarang bekerja keras, tetapi segala sesuatu yang didorong nafsu duniawi berlebihan dikhawatirkan menjauhkan rasa tenteram.

Bulan Ramadan menjadi momen meredam hasrat dan menata niat. Jika ada peluang bisnis atau proyek menggiurkan, pemilik weton Pahing disarankan menimbangnya dengan hati jernih. Memperbanyak sedekah dan berbagi juga dipercaya membantu menyeimbangkan energi rezeki.

Jangan Membuka Aib dan Rahasia Orang

Pantangan ketiga yang tak kalah penting adalah menjaga lisan. Pahing dikenal cerdas membaca situasi dan peka terhadap karakter orang lain. Ia cepat menangkap kelemahan dan perubahan sikap di sekitarnya. Namun kemampuan ini bisa menjadi pedang bermata dua.

Membicarakan kekurangan orang lain, baik dalam bentuk gosip, sindiran, maupun keluhan berlebihan, dipercaya dapat mengeruhkan batin dan menghambat keberkahan. Di bulan puasa, menjaga ucapan menjadi ujian tersendiri, terutama bagi karakter yang blak-blakan.

Dalam pandangan kepercayaan Jawa, membuka aib orang lain sama saja membuka pintu konflik yang perlahan namun pasti. Energi negatif dari perkataan tajam diyakini bisa kembali kepada diri sendiri dalam bentuk ketidaknyamanan hidup. Karena itu, dianjurkan berbicara seperlunya dan tidak ikut campur urusan yang bukan tanggung jawabnya.

Jangan Abaikan Kewajiban Spiritual

Pantangan keempat disebut sebagai yang paling sering tidak disadari. Weton Pahing memiliki rasa percaya diri tinggi dan jarang merasa lemah. Namun justru karena merasa kuat, ada kecenderungan mengandalkan diri sendiri dan tanpa sadar mengendurkan kesungguhan ibadah.

Mengabaikan kewajiban spiritual, menjalankan puasa sekadar rutinitas, atau menunda ibadah karena sibuk urusan dunia dipercaya dapat mengganggu keseimbangan hidup. Ramadan adalah waktu merendahkan hati dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam pandangan primbon Jawa, kekuatan sejati bukan hanya keberanian dan ketegasan, melainkan kemampuan menyadari keterbatasan diri. Memperbanyak doa, refleksi diri, serta memperbaiki niat dalam setiap aktivitas menjadi laku yang dianjurkan.

Arahkan Energi pada Pengendalian Diri

Setelah memahami empat pantangan tersebut, weton Pahing tidak diminta untuk merasa takut. Weton hanyalah cerminan karakter dasar menurut kearifan leluhur. Penentu utama tetaplah sikap dan pilihan hidup sehari-hari.

Bulan puasa menjadi momentum menata ulang arah hidup. Energi besar yang dimiliki Pahing akan jauh lebih bermanfaat jika diarahkan pada kesabaran, ketulusan, dan pengendalian diri. Introspeksi menjelang berbuka atau setelah ibadah malam dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk membersihkan batin.

Jika mampu menjaga emosi, menata ambisi, menjaga lisan, dan memperkuat spiritualitas, weton Pahing saat bulan puasa justru berpotensi menjadikan Ramadan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih stabil, harmonis, dan penuh makna.

 

Editor : Izahra Nurrafidah
#Pantangan Weton Kliwon #Weton pahing #bulan puasa #Primbon Jawa