BLITAR KAWENTAR – Menjalankan ibadah puasa bagi ibu menyusui (busui) memerlukan strategi nutrisi yang tepat agar kesehatan ibu tetap terjaga dan kualitas air susu ibu (ASI) bagi buah hati tidak menurun.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar menekankan, kunci utama bagi busui terletak pada manajemen hidrasi dan pemilihan jenis makanan saat sahur maupun berbuka.
Nutrisionis Pelaksana Lanjutan Dinkes Kabupaten Blitar, Erma Trifalufi menjelaskan, kebutuhan cairan bagi busui jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa pada umumnya.
Hal ini dikarenakan tubuh memerlukan sediaan air yang cukup untuk memproduksi ASI di tengah kondisi berpuasa.
"Jika orang dewasa secara umum disarankan minum 8 gelas sehari, maka untuk ibu menyusui porsinya harus ditambah menjadi 10 hingga 12 gelas sehari selama rentang waktu berbuka hingga sahur," ujarnya.
Selain hidrasi, Erma juga menyoroti pentingnya asupan protein dan serat yang harus terpenuhi dengan baik.
Komposisi ini berperan penting dalam menjaga kualitas kandungan ASI.
Meski komposisi nutrisi dalam ASI bisa sedikit berbeda saat ibu berpuasa, pemenuhan gizi yang seimbang dapat meminimalisasi dampak tersebut.
Erma juga memberikan panduan mengenai kondisi kapan seorang busui diperbolehkan atau justru harus membatalkan puasanya.
Menurutnya, faktor usia bayi dan kondisi fisik ibu menjadi indikator utama.
"Jika bayi sudah tidak dalam masa ASI eksklusif atau sudah mendapatkan MPASI, biasanya tidak menjadi masalah besar jika ibu berpuasa. Namun, ada tanda-tanda yang harus diwaspadai sebagai sinyal tubuh perlu beristirahat," jelasnya.
Erma mengingatkan para busui agar segera menghentikan puasa jika muncul gejala klinis tertentu.
"Apabila ibu merasa pusing yang hebat, tubuh terasa sangat lemas, atau melihat kondisi bayi mengalami diare, maka ibu harus segera membatalkan puasa demi keselamatan ibu dan bayi," tegas Erma.
Dengan manajemen istirahat yang cukup dan pemenuhan nutrisi protein yang tepat, para busui diharapkan tetap dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa harus mengorbankan kesehatan buah hati mereka. (kho/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah