BLITAR KAWENTAR - Gagasan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penggunaan atap genting berbahan tanah liat untuk rumah dan bangunan di Indonesia disambut Bupati Blitar Rijanto.
Kebijakan tersebut berpotensi besar menggerakkan kembali industri genting tradisional. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar tengah menunggu peluang program gentingisasi.
Rijanto mengaku senang dengan wacana tersebut karena dinilai berpihak pada pelaku usaha kecil dan industri rumahan yang selama ini menggantungkan hidup dari produksi genting tanah liat.
“Sangat positif. Ya, saya senang terkait progam pemerintah pusat. Apalagi, Kabupaten Blitar memiliki sejarah panjang sebagai salah satu daerah penghasil genting tanah liat di Jawa Timur,” ujarnya.
Dia melanjutkan, beberapa desa bahkan dikenal sebagai kampung perajin genting yang memasok kebutuhan hingga luar daerah.
Salah satunya, dia menyebut Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, serta sejumlah desa di Kecamatan Kademangan sebagai sentra industri genting yang cukup terkenal.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pasar terhadap genting tanah liat cenderung menurun. Jika progam gentingisasi bisa berjalan, ada sinyal positif bagi pelaku usaha genting.
Penurunan permintaan, lanjutnya, dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perubahan tren bahan bangunan yang lebih modern dan praktis.
Akibatnya tidak sedikit perajin yang mengurangi produksi bahkan berhenti karena sepinya pesanan. “Kalau permintaan naik, otomatis produksi meningkat. Tenaga kerja juga terserap. Ini tentu berdampak positif pada perekonomian daerah,” jelasnya.
Meski demikian, Pemkab Blitar tidak akan terburu-buru mengambil langkah sebelum ada arahan teknis yang jelas dari pemerintah pusat.
Rijanto menegaskan bahwa menunggu regulasi atau petunjuk pelaksanaan yang lebih rinci agar kebijakan yang diambil nantinya tepat sasaran.
Rijanto berharap gagasan tersebut tidak sekadar menjadi wacana, tetapi benar-benar direalisasikan dalam bentuk kebijakan nasional yang terukur dan berkelanjutan. Dengan demikian, industri genting tradisional yang sempat meredup bisa kembali bergairah dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Kabupaten Blitar.
“Kami akan lihat dulu tindak lanjut instruksi presiden itu. Pasti nanti ada teknisnya. Jangan sampai langsung merespons tanpa kejelasan, nanti malah tidak pas dan repot semua,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.