Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Inilah Sosok Warga Kota Blitar Penulis Buku “Gibran The Next President”

Noormalady Usman • Senin, 23 Februari 2026 | 13:00 WIB

Sosok Ahmad Bahar, Warga Kelurahan Gedog Penulis “Gibran The Next President”  Sempat Dianggap Peramal, Kini Bikin Buku tentang Kapolri
Sosok Ahmad Bahar, Warga Kelurahan Gedog Penulis “Gibran The Next President” Sempat Dianggap Peramal, Kini Bikin Buku tentang Kapolri

BLITAR KAWENTAR - Nama Ahmad Bahar mendadak menjadi perbincangan setelah mengungkap rahasia ratusan karya tulisnya yang fenomenal.

Salah satunya karya buku berjudul Gibran The Next President. Warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, ini menegaskan bahwa sebuah tulisan memiliki kekuatan yang jauh lebih mematikan dan berbahaya dibandingkan senjata api sekalipun.


Salah satu karya monumentalnya yang sempat dianggap mustahil adalah buku berjudul Gibran The Next President. Buku ini ditulis jauh sebelum Gibran Rakabuming Raka resmi maju dalam kontestasi pilpres, bahkan saat putra sulung Jokowi itu masih dalam proses pencalonan Wali Kota Solo.


Pengalaman Ahmad Bahar dalam mengawal narasi lima presiden Indonesia membuktikan bahwa ia bukan penulis sembarangan. Dia menceritakan bagaimana narasinya sering kali menjadi kenyataan, termasuk ketika menulis tentang pasangan Jokowi-JK pada 2013 yang awalnya diragukan banyak pihak.


Menurutnya, menjadi penulis itu ibarat petani, harus tahu kapan menanam benih agar bisa panen saat masyarakat membutuhkan informasi tersebut.


Karier kepenulisan Ahmad Bahar dimulai sejak semester tiga di Universitas Gadjah Mada (UGM). Karena memutuskan menikah muda, dia terpacu mencari penghasilan mandiri dengan mengirimkan artikel ke berbagai media massa.

Menariknya, honor dari sepuluh artikel yang dimuat saat itu sudah melampaui gaji seorang kepala sekolah, sebuah pencapaian luar biasa yang memantapkan langkahnya di dunia literatur hingga tiga dekade lebih.


Kini, Ahmad Bahar tengah menyiapkan karya terbaru yang tak kalah kontroversial berjudul Rapor Merah Sang Jenderal. Buku yang diluncurkan pada 5 Februari lalu ini menyoroti kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan proses reformasi di tubuh Polri.

Baca Juga: Simbol Kejayaan dan Kesetiaan! Menelusuri Jejak Sejarah Juventus: Dari Era Emas Keluarga Agnelli hingga Tragedi Calciopoli

Dia mengaku tak gentar meski beberapa karya sebelumnya sempat dilarang beredar atau disita karena dianggap terlalu vokal menyuarakan kritik terhadap kebijakan institusi.
"Menulis itu harus ada emosi dan rasa. Kita tidak menulis untuk kepuasan diri sendiri, tapi untuk masyarakat," ujar Bahar.


Baginya, tantangan dan cemoohan dari pembaca adalah bumbu yang justru menyemangati proses kreatifnya.


Meski sering mendapat tekanan hingga panggilan telepon misterius di tengah malam, dia tetap konsisten memegang prinsip bahwa karya adalah bentuk perlawanan dan pengabdian yang paling nyata.


Bagi generasi muda Blitar, kisah Ahmad Bahar adalah bukti bahwa ketajaman pena bisa membawa seseorang melintasi batas-batas formalitas dan kekuasaan.

Dari seorang mahasiswa yang hobi bersurat dengan pejabat, kini dia menjadi penulis yang suaranya didengar dan diperhitungkan di level nasional.(*/mg3/c1/sub)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Gibran The Next President #Penulis Blitar #Rapor Merah Sang Jenderal #Sastra Politik #Profil Penulis