BLITAR KAWENTAR – Meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit menular dari hewan ke manusia kembali menjadi perhatian seiring munculnya isu global terkait virus Nipah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar menekankan pentingnya edukasi zoonosis kepada masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pola konsumsi dan kebiasaan sehari-hari.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, drg Anggit Ditya Putranto menjelaskan, virus Nipah merupakan salah satu penyakit zoonosis yang penularannya melibatkan hewan, terutama kelelawar pemakan buah, serta dapat menular ke manusia, baik secara langsung maupun melalui perantara.
"Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Kabupaten Blitar, upaya pencegahan tetap harus dikedepankan melalui peningkatan kesadaran masyarakat," jelasnya.
Sebagai informasi, virus Nipah dapat menyebabkan gejala yang buruk. Hal tersebut akan terjadi dalam rentang waktu 4-14 hari yang biasanya ditandai dengan demam, nyeri tenggorokan, muntah, nyeri otot, dan sakit kepala.
Dalam kasus serius, virus ini dapat menyebabkan peradangan otak.
Menurut Anggit, pola konsumsi masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah risiko penularan penyakit zoonosis.
Konsumsi buah yang tidak higienis, makanan setengah matang, maupun produk pangan yang tidak melalui proses pengolahan dengan baik berpotensi menjadi celah masuknya penyakit.
"Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memastikan makanan yang dikonsumsi dalam kondisi bersih, matang sempurna, dan berasal dari sumber yang aman," paparnya.
Dia menambahkan, edukasi mengenai zoonosis tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga peternak, pedagang pangan, hingga pelaku usaha kuliner.
Interaksi manusia dengan hewan, baik hewan ternak maupun satwa liar, perlu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
Penggunaan alat pelindung diri saat mengelola hewan, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak mengonsumsi produk hewan yang sakit menjadi langkah dasar yang harus dipahami bersama.
Dinkes, kata Anggit, secara berkala melakukan sosialisasi dan penguatan surveilans penyakit menular sebagai langkah deteksi dini.
"Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan, termasuk dengan dinas yang membidangi peternakan dan ketahanan pangan, guna memastikan keamanan pangan asal hewan di tingkat masyarakat," pungkasnya.
Selain itu, Anggit mengimbau masyarakat untuk tidak mudah panik terhadap informasi yang beredar, namun tetap waspada dan selektif dalam menyaring informasi kesehatan.
Jika ditemukan gejala penyakit yang tidak biasa, terutama setelah kontak dengan hewan atau mengonsumsi produk hewani, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. (kho/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.