RADAR BLITAR - Polemik terbaru soal desain jersey kembali memicu perbincangan publik tentang jersey timnas dari masa ke masa. Pro dan kontra yang muncul di media sosial menjadi bukti bahwa jersey bukan sekadar seragam, melainkan simbol identitas dan kebanggaan nasional.
Fenomena ini sekaligus mengingatkan publik bahwa perjalanan jersey timnas dari masa ke masa telah melalui berbagai fase penting. Mulai dari era tanpa apparel resmi, dominasi brand global, hingga kebangkitan produk lokal yang kini kembali jadi sorotan.
Sejak awal kemerdekaan, jersey timnas dari masa ke masa didominasi warna merah putih sebagai simbol nasionalisme. Bahkan, Presiden Soekarno disebut memiliki peran penting dalam menentukan identitas visual tersebut, termasuk penggunaan lambang Garuda Pancasila di dada pemain.
Era Awal: Identitas Nasional Lebih Penting dari Brand
Pada periode awal, timnas belum memiliki kerja sama dengan apparel tertentu. Jersey dibuat secara sederhana oleh produsen lokal, tanpa teknologi modern seperti saat ini.
Memasuki era 1980-an, barulah timnas mulai mengenal brand global seperti Adidas, Diadora, hingga Mikasa.
Namun, kerja sama saat itu belum bersifat profesional. Federasi hanya membeli lisensi desain, sementara produksi tetap dilakukan oleh pabrik lokal. Hal ini berdampak pada kualitas jersey yang kerap menuai kritik dari pemain.
Beberapa nama seperti Bambang Nurdiansyah bahkan pernah mengeluhkan kualitas jersey yang dianggap kurang nyaman digunakan di pertandingan internasional.
Era 2000-an: Profesionalisme dan Masuknya Nike
Memasuki awal 2000-an, perubahan besar terjadi ketika Nike mulai menjalin kerja sama dengan PSSI. Meski awalnya hanya sebatas penyedia jersey tanpa nilai sponsor besar, langkah ini menjadi titik awal profesionalisme dalam pengelolaan apparel timnas.
Pada periode ini, desain jersey mulai mengalami modernisasi. Teknologi bahan, kenyamanan, dan estetika menjadi perhatian utama.
Kerja sama semakin berkembang ketika Nike menawarkan kontrak jangka panjang dengan nilai miliaran rupiah per tahun. Bahkan, kampanye besar dilakukan untuk memperkuat citra timnas di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu ciri khas jersey era ini adalah kembalinya warna hijau sebagai alternatif, terutama untuk jersey tandang. Desain ini menjadi cukup ikonik dan terus digunakan hingga sekitar 2018.
Era 2004 dan Kebangkitan Brand Lokal
Sebelum era Nike benar-benar mapan, sempat muncul brand lokal Gazali Sports yang mencoba menjadi apparel resmi timnas. Namun, desainnya menuai kritik tajam dari publik karena dianggap kurang menarik.
Tak lama setelah itu, Adidas kembali mengambil alih dan menghadirkan desain yang lebih modern dan profesional, terutama pada ajang Piala Tiger 2004. Jersey ini bahkan laris di pasaran dan menjadi salah satu yang paling sukses secara komersial.
Kesuksesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas desain dan branding sangat memengaruhi penerimaan publik terhadap jersey timnas.
Era 2020–2023: Dominasi Produk Lokal
Setelah kerja sama panjang dengan Nike berakhir pada 2019, PSSI beralih ke brand lokal, yakni Mills.
Langkah ini sempat menimbulkan keraguan, namun Mills berhasil membuktikan kualitasnya. Jersey yang dirilis memiliki desain minimalis, elegan, dan dianggap mampu bersaing dengan produk luar negeri.
Bahkan, pada periode ini timnas mencatat sejumlah prestasi penting, yang turut mengangkat popularitas jersey buatan lokal.
Era 2024–2025: Kontroversi dan Kritik Publik
Memasuki 2024 hingga 2025, kerja sama baru dengan apparel lokal kembali memicu polemik. Desain jersey yang dirilis dinilai kurang memuaskan oleh sebagian besar suporter.
Kritik terutama mengarah pada tampilan logo Garuda yang dianggap kurang eksklusif serta harga yang dinilai terlalu tinggi. Perdebatan pun meluas di media sosial.
Pengamat sepak bola seperti Justin Lhaksana bahkan turut memberikan kritik terhadap desain tersebut.
Meski demikian, pihak apparel disebut telah berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan desain demi meredam polemik yang berkembang.
Lebih dari Sekadar Seragam
Perjalanan panjang jersey timnas dari masa ke masa menunjukkan bahwa setiap desain memiliki cerita dan konteksnya sendiri. Dari era sederhana pasca kemerdekaan hingga era modern penuh teknologi, semuanya mencerminkan perkembangan sepak bola Indonesia.
Jersey bukan hanya soal estetika, tetapi juga identitas, kebanggaan, dan representasi bangsa di mata dunia. Tak heran jika setiap perubahan selalu mengundang perhatian dan perdebatan publik.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menghadirkan desain yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu merepresentasikan semangat Garuda secara utuh.
Editor : Anggi Septian A.P.