BLITAR KAWENTAR - Kegiatan Ngaji Pasan kembali digelar di Masjid Jami Baitul Quddus, Desa/Kecamatan Wonodadi, selama bulan suci Ramadan.
Tradisi tahunan ini menjadi ruang belajar keagamaan bagi masyarakat, khususnya kalangan remaja dan jemaah sekitar masjid, untuk memperdalam pemahaman ilmu fikih di sela-sela ibadah puasa. Penekanan materi Ramadan kali ini adalah memperkuat fikih dasar di kalangan remaja.
Pengajar Ngaji Pasan Masjid Jami Baitul Quddus, M Yazidun Niam menjelaskan, kegiatan ngaji tersebut dimulai sejak hari pertama puasa Ramadan. Ngaji Pasan dijadwalkan berlangsung hingga sekitar 20 hari pertama bulan puasa.
Pertimbangan pembatasan waktu itu dilakukan karena biasanya tingkat kehadiran peserta mulai menurun setelah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan. “Ngaji dimulai sejak puasa pertama dan diagendakan sampai sekitar 20 hari. Biasanya kalau sudah lewat itu, pesertanya mulai berkurang.
Nanti di akhir puasa insya Allah juga ada buka bersama sebagai penutup,” ungkapnya.
Untuk waktu pelaksanaan, Ngaji Pasan digelar setiap sore hari setelah salat Asar. Kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30 WIB dan diakhiri kurang lebih 15 menit sebelum waktu berbuka puasa.
Pengaturan waktu ini dimaksudkan agar para peserta memiliki kesempatan pulang ke rumah masing-masing dengan aman dan tidak terburu-buru menjelang magrib. “Supaya jemaah bisa pulang dulu, tidak khawatir di jalan saat waktu magrib,” jelasnya.
Jumlah peserta yang mengikuti Ngaji Pasan di masjid ini berkisar 50 orang. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga masyarakat umum yang memiliki minat untuk memperdalam ilmu agama selama Ramadan.
Adapun kitab yang dikaji dalam Ngaji Pasan tahun ini adalah kitab fikih dasar. Pemilihan materi disesuaikan dengan kebutuhan jemaah, terutama generasi muda yang dinilai membutuhkan penguatan pemahaman dasar-dasar fikih dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang kan berbeda dengan dulu, ketika madrasah diniah masih banyak dan anak-anak rajin mengaji. Dengan kondisi sekarang, kami merasa perlu memberikan bekal fikih dasar bagi remaja,” terangnya.
Kitab fikih dasar yang diajarkan merupakan karya Syekh Kholil Bangkalan, seorang ulama besar yang dikenal luas di Nusantara. Melalui Ngaji Pasan ini, harapannya tradisi belajar agama di bulan Ramadan tetap terjaga dan mampu menjawab kebutuhan keilmuan umat di tengah perkembangan zaman. (kho/c1/ynu)