BLITAR KAWENTAR - Ramadan bukan hanya menjadi waktu menahan lapar dan dahaga, melainkan juga momentum refleksi bagi anak muda untuk menata ulang kebiasaan hidup, termasuk dalam penggunaan media sosial.
Wacana puasa media sosial pun mulai dipandang sebagai cara untuk mengurangi screen time dan memberi ruang bagi aktivitas yang lebih bermakna.
Sofia Annas Ashari, Ketua PC IPPNU Kota Blitar menilai, gagasan detoks digital relevan dengan kondisi generasi muda saat ini yang hampir seluruh aktivitasnya terhubung dengan layar.
‘’Tanpa sadar, screen time sering kali lebih lama daripada waktu kita untuk refleksi diri. Ramadan dapat menjadi momentum untuk menata ulang prioritas, bukan berarti anti media sosial, tetapi lebih pada mengendalikannya,’’ ujarnya.
Dia juga menuturkan, bagi anak muda dengan aktivitas padat, paparan informasi tanpa henti dapat memicu kelelahan mental.
Ramadan menghadirkan suasana yang mendukung perubahan tersebut. Lingkungan yang lebih religius dan ritme hidup yang berbeda membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas yang lebih bernilai, seperti tilawah, zikir, atau refleksi diri.
Sofia menekankan, puasa media sosial tidak perlu dilakukan secara ekstrem dan dapat dimanfaatkan untuk hal produktif.
‘’Kita bisa mulai membatasi jam penggunaan dengan menghindari membuka media sosial setelah Tarawih, hingga mengganti kebiasaan scroll sebelum tidur dengan membaca Alquran,’’ jelasnya.
Dia sendiri memanfaatkan Ramadan dengan memperbanyak tilawah, mengikuti pengajian kitab, serta tetap menjalankan tanggung jawab akademik dan sosialnya. Baginya, Ramadan seharusnya menjadi ruang memperkuat fondasi spiritual sekaligus memperbaiki kebiasaan digital.
Harapannya, generasi muda menjadikan Ramadan sebagai momentum menyeimbangkan kembali kehidupan dunia dan spiritual. “Yang kita cari bukan hanya produktif secara dunia, tetapi juga bernilai di hadapan Allah SWT,” pungkasnya. (mg3/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.