BLITAR KAWENTAR - Fenomena puasa media sosial (medsos) dinilai memiliki kaitan erat dengan kualitas ibadah Ramadan, terutama dari sisi komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan diri sendiri.
Menurut pengamat media, Anita Reta Kusumawijayanti, pengaruh sosmed terhadap fokus dan ketenangan batin cukup besar jika tidak diimbangi kontrol diri.
“Berbagai konten viral, notifikasi, dan validasi like bisa mengganggu fokus. Padahal, Ramadan adalah momen refleksi dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Dia menjelaskan, ketika anak muda terlalu tenggelam dalam aktivitas scrolling, ruang hening yang seharusnya menjadi inti perjalanan spiritual bisa tergeser oleh kebisingan dunia maya.
Konsep komunikasi intrapersonal menekankan pentingnya dialog batin. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperkuat kesadaran spiritual. Namun, jika gawai terus mendominasi perhatian, proses tersebut berpotensi terganggu.
Dosen Komunikasi UNISBA Blitar ini selalu mengingatkan mahasiswanya agar menjadi pengguna medsos yang sadar, bukan sekadar ikut arus tren.
“Puasa medsos bukan berarti anti-digital, tapi soal kemampuan mengendalikan diri. Jika bisa mengatur waktu akses, kualitas ibadah dan ketenangan batin akan lebih terjaga,” katanya.
Dia menegaskan, kunci utama bukan pada platform-nya, melainkan pada pola penggunaan. Seperti membatai waktu akses, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta memilih sumber informasi yang benar-benar relevan untuk meningkatkan spiritualitas di bulan penuh berkah dan ampunan ini. (sub/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.