BLITAR KAWENTAR - Pasar takjil atau bazar Ramadan di Jalan Kenanga Kota Blitar selalu menjadi magnet masyarakat untuk berburu makanan dan minuman (mamin) berbuka puasa. Kendati ramai, masih ada pengunjung yang mengeluh penarikan biaya parkir yang tidak sesuai dengan tarif parkir resmi dari Pemerintah Kota Blitar.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.00 atau jam 3 sore. Kawasan di Jalan Kenanga, timur Kantor Wali Kota Blitar, itu sudah berubah. Ruas yang semula bisa dilalui oleh kendaraan itu telah ditutup aksesnya. Stan-stan bazar di tepi jalan juga sudah terisi oleh berbagai jenis jajanan, makanan, dan minuman.
Pengunjung pasar takjil mulai berdatangan. Sebagian ruas Jalan Merdeka maupun Jalan Mastrip menjadi kantong parkir. Spot berburu takjil di pusat kota tersebut selalu menyedot animo masyarakat.
Di kawasan itulah, perputaran ekonomi masyarakat menggeliat selama Ramadan.
Ada ratusan pedagang yang berjualan di bazar musiman tersebut. Mereka menjual beragam makanan dan minuman maupun camilan untuk menu berbuka puasa.
Meski begitu, para pedagang diimbau untuk menjual mamin yang aman dan layak konsumsi.
Salah satu pengunjung, Oksania, mengaku senang bisa bisa berkunjung di pasar takjil Ramadan tersebut.
Dia tiba sekitar pukul 16.30 di lokasi dan suasananya sudah ramai. ”Namun saat itu masih nyaman buat keliling dan antre membeli jajanan,” ungkapnya kepada Koran ini, kemarin (26/2).
Berkunjung ke pasar takjil tersebut menjadi pengalaman pertamanya.
Setiba di sana banyak pilihan makanan dan minuman rekomendasi berbuka puasa. ”Beberapa juga enak dan worth it, kayak wedang empon-empon sama cenil. Jadi keseluruhan lumayan seru buat ngabuburit, mungkin next time bisa balik lagi buat coba yang lain,” ujar warga Kecamatan Garum ini.
Meski seru bisa berburu takjil, dia menyayangkan penarikan ongkos parkir yang tidak sesuai dengan ketentuan. Saat hendak pulang, dia ditarik ongkos parkir sebesar Rp 5 ribu oleh oknum juru parkir. Padahal sesuai ketentuan tarif parkir resmi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar untuk sepeda motor sebesar Rp 2 ribu.
”Di banner informasi tentang tarif parkir di dekat pasar takjil sebenarnya tertulis Rp 2 ribu, cuma banner-nya kecil dan ketutupan sama tempat sampah, jadi kurang kelihatan,” katanya.
Karena itu, dia berharap kepada dinas terkait untuk meningkatkan pengawasan di lokasi. Papan informasi mengenai tarif parkir sebaiknya dipasang di tempat yang mudah dilihat dan jelas. Jangan sampai pengunjung enggan untuk kembali ke pasar takjil lantaran oknum juru parkir yang nakal.
Khusus kepada para penjual agar tetap semangat dalam menjajakan dagangannya. Berikan pelayanan yang terbaik kepada pembeli.
”Dan, semoga bisa lebih konsisten pada rasa dan porsi biar pembeli lebih puas. Soalnya tempatnya sendiri sudah menarik dan ramai pengunjung,” tuturnya.
Sementara itu, pengunjung lain, Saifullah, mengaku senang bisa berkunjung ke pasar takjil. Meski tidak membeli banyak jajanan, bazar takjil tersebut bisa menjadi salah satu referensi untuk berburu menu berbuka puasa.
”Saking banyaknya makanan, saya jadi bingung milih. Kemarin saya cukup beli minuman saja,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Anggi Septian A.P.