JAKARTA - Benjamin Sesko mulai membayar mahalnya ekspektasi publik setelah didatangkan Manchester United dengan banderol fantastis. Striker muda asal Slovenia itu kini menjelma jadi tumpuan baru Setan Merah di tengah isu panas transfer Manchester United yang juga menyeret nama Federico Di Marco hingga Casemiro.
Didatangkan dari RB Leipzig dengan nilai transfer mencapai 84 juta euro pada bursa musim panas, Benjamin Sesko sempat diragukan. Namun tekanan besar yang menghantamnya justru menjadi bahan bakar kebangkitan. Di saat bersamaan, kabar transfer Manchester United memanas setelah gagal memboyong Federico Di Marco dan munculnya rumor kepindahan Casemiro ke MLS.
Performa Benjamin Sesko kini menjadi sorotan utama pendukung Manchester United. Setelah melewati masa paceklik gol di awal kedatangannya, penyerang 22 tahun itu sukses membalikkan situasi dan menunjukkan mentalitas kelas atas di kompetisi Liga Inggris.
Kebangkitan Benjamin Sesko di Old Trafford
Awal karier Sesko di Old Trafford tidak berjalan mulus. Ia gagal mencetak gol dalam enam laga pertamanya, sebelum akhirnya memecah kebuntuan saat menghadapi Brentford meski timnya kalah. Setelah itu, inkonsistensi kembali menghampiri.
Namun situasi berubah drastis. Dalam tujuh penampilan terakhir, Sesko tampil tajam dengan mencetak enam gol. Ia menjadi penentu kemenangan atas Everton serta penyelamat saat menghadapi West Ham United.
Secara keseluruhan, Benjamin Sesko telah mengoleksi delapan gol dari 24 penampilan di semua kompetisi musim ini. Angka itu memang belum spektakuler, tetapi grafiknya menanjak signifikan.
Sesko mengakui tekanan besar di klub sebesar Manchester United adalah hal yang tak terhindarkan. Baginya, tekanan bukan beban, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai pemain di level tertinggi. Mentalitas ini yang membuatnya perlahan menemukan bentuk permainan terbaik.
Ketajamannya sangat dibutuhkan Setan Merah untuk mendongkrak posisi di klasemen Liga Inggris, terutama jelang laga penting melawan Crystal Palace di Old Trafford.
Gagal Boyong Federico Di Marco
Di tengah kebangkitan lini depan, Manchester United justru menemui jalan buntu dalam perburuan bek kiri. Nama Federico Di Marco sempat menjadi target utama.
Bek andalan Inter Milan itu tampil luar biasa dalam dua musim terakhir dan masuk jajaran bek kiri terbaik Serie A. Musim ini ia sudah mencatatkan 15 assist di Liga Italia, hanya terpaut satu dari rekor assist terbanyak dalam semusim.
Ketertarikan Manchester United bahkan diwujudkan dengan pemantauan langsung saat laga Inter kontra Juventus pada Februari 2026. Namun harapan itu pupus.
Inter Milan menegaskan Di Marco tidak dijual dengan harga berapa pun. Loyalitas sang pemain kepada klub masa kecilnya juga menjadi faktor kunci. Hubungan emosional yang kuat membuat peluang transfer ke Old Trafford tertutup rapat.
Kegagalan ini memaksa manajemen mengalihkan fokus ke alternatif lain untuk memperkuat sektor kiri pertahanan.
Era Michael Carrick dan Solidnya Pertahanan
Sejak ditangani Michael Carrick sebagai pelatih interim, Manchester United menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di lini belakang.
Kiper muda Sen Lamens menjadi salah satu figur penting. Ia tampil gemilang saat kemenangan 1-0 atas Everton dengan empat penyelamatan krusial.
Dalam enam laga terakhir, Manchester United tak terkalahkan dengan lima kemenangan, mencetak 12 gol dan hanya kebobolan lima kali. Tiga clean sheet Lamens di Liga Inggris diraih di era Carrick.
Legenda klub Edwin van der Sar bahkan memuji ketenangan Lamens yang dinilai memiliki kemiripan gaya bermain dengannya.
Kebangkitan ini membawa Setan Merah kembali ke empat besar klasemen dengan 48 poin, membuka peluang besar bersaing di papan atas.
Casemiro Menuju MLS?
Sementara itu, isu transfer Manchester United juga mengarah pada masa depan Casemiro. Gelandang asal Brasil itu dirumorkan merapat ke Major League Soccer (MLS) akhir musim nanti.
Manajemen dikabarkan tidak akan mengaktifkan opsi perpanjangan kontrak otomatis satu tahun. Dengan gaji lebih dari 300 ribu pound sterling per pekan, keputusan ini disebut bagian dari efisiensi finansial dan peremajaan skuad.
Ironisnya, performa Casemiro justru membaik di bawah arahan Carrick. Ia kembali menjadi jangkar penting di lini tengah dan menunjukkan kapasitas bersaing di level tertinggi.
Meski begitu, faktor usia dan beban gaji besar membuat peluang hijrah ke MLS semakin terbuka. Bagi kompetisi Amerika Serikat, kehadiran pemain berpengalaman seperti Casemiro tentu mendongkrak nilai kompetitif dan komersial liga.
Dilema Kursi Pelatih Permanen
Terlepas dari performa impresif di bawah Carrick, manajemen Manchester United masih mempertimbangkan opsi pelatih permanen. Sebagian pihak menilai efek positif saat ini bisa jadi hanya “new manager bounce”.
Namun dukungan pemain terhadap Carrick terus mengalir. Fleksibilitas taktik dan komunikasi yang baik dinilai sukses meredam ketegangan ruang ganti.
Manchester United kini berada di fase krusial: mempertahankan momentum kebangkitan sekaligus menentukan arah proyek jangka panjang demi kembali mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa.
Dengan Benjamin Sesko yang mulai tajam, pertahanan makin solid, serta dinamika transfer yang terus bergulir, Setan Merah memasuki periode penentuan yang akan sangat menentukan masa depan mereka.
Editor : Anggi Septian A.P.