BLITAR KAWENTAR - Di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, Dyah tetap meluangkan waktu untuk membaca.
Dari kebiasaan tersebut, ia kemudian membuat ulasan singkat yang diunggah ke akun Instagram pribadinya. Awalnya, unggahan itu hanya berfungsi sebagai catatan pribadi agar ia tidak lupa isi buku yang telah dibaca.
“Saya unggah review hanya untuk mencatat poin penting dari buku. Supaya kalau suatu saat lupa, bisa baca lagi di Instagram,” ujarnya.
Namun, ketika menjelajahi fitur explore, Dyah menemukan banyak kreator konten serupa yang menggunakan tagar bookstagram. Dari situlah ia mulai mengenal istilah tersebut dan ikut menggunakannya dalam setiap unggahan. Seiring waktu, ia terhubung dengan sesama kreator literasi dari berbagai daerah dan saling berbagi rekomendasi bacaan.
Menariknya, di wilayah Blitar Raya, Dyah menjadi salah satu yang konsisten mengembangkan konten bookstagram. Ia pun aktif berbagi semangat literasi kepada sesama pecinta buku di Bumi Penataran.
Sejak aktif pada 2016 lalu, akun Instagram Dyah kini memiliki 5.192 pengikut dengan total 246 unggahan. Kontennya tidak sekadar menuliskan ulasan pada caption, tetapi juga menampilkan foto buku yang estetik. Ia belajar fotografi secara otodidak dengan mencari referensi di Pinterest, lalu memodifikasi konsep menggunakan properti sederhana yang ada di rumah.
Popularitas akunnya meningkat saat pandemi Covid-19. Ketika masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah, minat membaca ikut naik dan kontennya semakin ramai dikunjungi. Pada 2021, tawaran kerja sama mulai berdatangan dari penulis maupun penerbit melalui pesan langsung.
Hingga kini, Dyah telah menerima hampir 50 endorse buku. Tarif yang dipatok bervariasi, mulai Rp 100 ribu saat awal menerima kerja sama hingga Rp 450 ribu untuk tiga kali unggahan dari penerbit, termasuk revisi konten sesuai kesepakatan.
Meski pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan terkait apresiasi dari penerbit, Dyah tetap menikmati aktivitasnya. Ia bahkan mengaku tetap membaca meski sedang vakum membuat konten.
“Kalau baca buku tapi tidak saya catat atau unggah, rasanya seperti ada yang kurang. Setahun bisa 20 buku yang saya baca,” pungkasnya.(jar/ady)