BLITAR KAWENTAR - Anggapan stunting hanya menyerang keluarga prasejahtera atau miskin kini mulai terpatahkan oleh realita di lapangan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mengungkapkan, faktor sosiokultural, terutama pola asuh yang salah atau “instan”, kini menjadi batu sandungan utama dalam upaya penurunan angka stunting di Bumi Penataran.
Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kabupaten Blitar, Etti Suryani menegaskan, tren stunting saat ini tidak lagi didominasi oleh faktor ketidakmampuan ekonomi untuk membeli pangan.
Namun, pada rendahnya kesadaran dan pengetahuan orang tua dalam mengelola asupan gizi anak. "Penyebab terbanyak saat ini adalah pola asuh.
Ini sering kali bukan karena faktor kemiskinan untuk mencukupi gizi, tetapi lebih kepada cara pemberian makan yang tidak memperhatikan porsi dan kecukupan nutrisinya," ujarnya saat dikonfirmasi tim Radar Penataran.
Etti menyoroti fenomena orang tua yang cenderung memilih cara "instan" dalam memberi makan anak tanpa memikirkan kandungan gizinya.
Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau bahkan sikap kurang peduli terhadap pertumbuhan jangka panjang sang buah hati.
"Banyak orang tua yang hanya ingin praktisnya saja. Padahal, masa pertumbuhan balita membutuhkan komposisi nutrisi yang spesifik.
Tantangan terbesar kami di lapangan saat ini adalah mengubah perilaku masyarakat tersebut," tambahnya.
Mengubah perilaku sosiokultural dinilai jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan intervensi fisik seperti pemberian bantuan pangan.
Pasalnya, kebiasaan memberikan makanan rendah gizi demi kepraktisan sudah berakar di sebagian kelompok masyarakat, termasuk mereka yang sebenarnya secara ekonomi mampu.
Berdasarkan data 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Blitar berada di angka 17,8 persen.
Meski turun dari angka 20,3 persen pada 2023, wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas tinggi seperti Kecamatan Garum, Ponggok, dan Selopuro masih menjadi perhatian khusus karena dinamika pola asuhnya yang beragam.
Melalui kader posyandu, dinkes terus menggencarkan edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang dan bahaya makanan instan bagi balita.
Harapannya, masyarakat menyadari kecukupan gizi anak adalah investasi masa depan yang tidak bisa ditawar dengan alasan kepraktisan semata. (kho/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.