BLITAR KAWENTAR - Di sebuah sudut Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, deretan hardbox premium tertata rapi. Warna-warna lembut khas Lebaran berpadu dengan desain elegan. Dari tempat inilah, ribuan boks hamper dikirim ke berbagai penjuru Indonesia, bahkan menembus luar negeri.
Semua merupakan karya dari Lendi Renora, warga Desa Kemloko yang merintis usaha kemasan hamper sejak 2018. Berbekal tekad dan strategi pemasaran digital, usahanya kini melayani pesanan dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Makassar, hingga Aceh. Tak hanya itu, kiriman juga pernah melayang ke Singapura dan Malaysia.
“Dari awal, saya memang tidak ingin menyasar lokal saja. Menurut saya, usaha itu harus punya sasaran luas, enggak cuma lingkup Blitar,” ujar Lendy ditemui di galerinya.
Dia melanjutkan, kendala pengiriman bukan lagi persoalan besar. Banyaknya jasa ekspedisi dan kargo memudahkan distribusi ke seluruh Indonesia. Bahkan, pesanan terjauh pernah dikirim ke Timika dan Aceh.
Menjelang Idul Fitri pada tahun ini, geliat produksi terasa sejak dua hingga tiga bulan sebelumnya. Maklum, Lendy memang fokus pada kemasan, bukan isi hamper. Pelanggannya mayoritas toko bakery dan vendor suvenir yang membutuhkan boks premium untuk meningkatkan nilai jual produk mereka.
“Kalau hari biasa produksi 100–150 hardbox per hari. Paper bag bisa 200 lebih. Saat Lebaran naik sekitar 20–30 persen,” katanya.
Harga yang ditawarkan bervariasi. Untuk hardbox Lebaran premium dipatok mulai Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu, tergantung ukuran. Sementara totebag dan pouch dibanderol mulai Rp 17 ribuan.
Soal omzet, Lendy tak menampik sudah menyentuh ratusan juta rupiah per bulan, bahkan hal itu didapat di luar momen Lebaran. Saat musim hari raya, angkanya tentu meningkat. Tahun ini saja, desain khusus Idul Fitri sudah terjual sekitar 4.000 boks. Meski peningkatan tiap tahun cenderung stabil, tren permintaan tak pernah surut.
“Bagi saya, kemasan adalah nilai tambah sebuah produk. Karena saya memiliki pengalaman berjualan baju, dan membuat sadar tampilan luar sangat menentukan daya tarik konsumen. Kadang orang punya produk bagus, tapi kemasannya biasa saja,” ungkapnya.
Perjalanan usaha ini tak instan. Di awal merintis, Lendy mengerjakan semuanya sendiri. Mulai menjadi admin Instagram, mendesain, produksi, hingga packing. Dia bahkan sengaja tak menyasar teman dekat sebagai pasar utama. “Kalau jualnya ke teman kan sempit. Saya dari awal pakai Instagram dan hashtag supaya pasarnya luas,” kenangnya.
Dulu, mendapat 10 pesanan sehari sudah membuatnya senang. Kini, target minimal 200 pesanan per hari menjadi tantangan rutin demi menutup biaya operasional karena harus memperdayakan puluhan karyawannya saat ini.
Seiring berkembangnya usaha, Lendy mulai merekrut karyawan satu per satu. Saat ini, ada sekitar 15 pekerja tetap di workshop dan 15 ibu-ibu sekitar yang mengerjakan jahitan dari rumah. Total sekitar 30 orang menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.
“Memang konsepnya pemberdayaan tetangga. Yang dekat-dekat sini saja. Bahkan banyak anak lulusan SMK yang bekerja saya, karena saya mengutamakan tetangga,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Anggi Septian A.P.