BLITAR KAWENTAR - Ramadan tahun ini diwarnai dengan fenomena unik yang selalu viral di jagat maya: War Takjil.
Istilah ini merujuk pada kompetisi "perebutan" kudapan berbuka puasa yang tidak hanya melibatkan umat muslim, tetapi juga warga non-muslim.
Di Blitar, fenomena ini tak dipungkiri bisa terjadi seperti di pusat-pusat keramaian kuliner sore hari.
Pengamat sosial sekaligus dosen sosiologi UNISBA Blitar, Dimas Putra Wijaya, menilai fenomena ini sebagai bentuk integrasi budaya yang sangat positif.
Secara sosiologis, ini perwujudan dari teori collective effervescence yang dikemukakan Émile Durkheim.
"Agama bukan hanya soal keyakinan personal, tapi mekanisme pembentuk solidaritas sosial. Dalam War Takjil, masyarakat mengalami perasaan kebersamaan karena melakukan aktivitas simbolik secara serempak," ujar Dimas.
Meski tidak semua pemburu takjil menjalankan ibadah puasa, mereka tetap larut dalam atmosfer sosial Ramadan yang inklusif.
Dimas menyoroti mengapa narasi ini begitu kuat di kalangan Gen Z dan Milenial. Berbeda dengan kampanye toleransi formal yang seringkali terasa kaku dan top-down, War Takjil dibungkus dengan humor dan komedi.
Media sosial seperti TikTok dan Instagram mentransformasi Ramadan menjadi festival visual yang partisipatif.
"Humor adalah mekanisme sosial untuk menormalisasi perbedaan tanpa mengintimidasi. Narasi War Takjil tumbuh dari bawah (grassroots culture) sehingga lebih efektif menyatukan masyarakat dibanding seminar-seminar formal," terangnya.
Fenomena ini juga dianggap sebagai “katup sosial” pasca-politisasi agama yang sempat memicu polarisasi.
Melalui interaksi informal di pasar takjil, ketegangan ideologis mencair dengan sendirinya.
Ramadan kini tidak lagi dipersepsi secara eksklusif, tetapi tampil sebagai perayaan budaya nasional yang memperkuat identitas Bhinneka Tunggal Ika di kalangan anak muda. (sub/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.