BLITAR KAWENTAR - Membentuk karakter anak di usia dini menjadi tantangan berat bagi orang tua di era digital. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taubah di Lingkungan Kebonsari, Kelurahan/Kecamatan Garum.
Di bawah asuhan Dr Nuryadin MFilI, puluhan santri cilik tingkat madrasah ibtidaiyah (MI) sudah terbiasa menjalani ritme hidup disiplin yang ketat, terutama selama bulan suci Ramadan.
Rutinitas dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Saat anak-anak seusianya masih terlelap, para santri ini sudah bangun untuk melaksanakan salat tahajud, sahur, hingga melantunkan tarhim di pengeras suara masjid.
Kedisiplinan ini bukan sekadar jadwal, melainkan metode tirakat untuk mencetak generasi yang beneh atau berbudi pekerti luhur.
"Pesantren adalah benteng terakhir umat Islam. Kami menekankan pembiasaan, mulai dari hal kecil seperti mencuci pakaian sendiri dua kali sehari hingga menjaga kebersihan kamar.
Jika sudah terbiasa disiplin, mereka akan memiliki identitas Islam yang kuat," ujar Dr Nuryadin.
Selain ibadah, kurikulum Ramadan di sini tetap mengedepankan literasi. Santri diwajibkan tuntas baca-tulis Arab dan Latin pada kelas 2 MI agar tidak tertinggal.
Menariknya, mereka juga dibekali hafalan 40 hadis sahih dari kitab Raudhatul Muhibbin karya sang pengasuh sendiri.
Para santri juga diberikan waktu khusus untuk mempelajari ilmu-ilmu yang mereka dapatkan di sekolah formal mereka.
“Para santri kami pastikan sudah mampu baca-tulis di kelas 2 agar mereka bisa belajar di jenjang yang lebih tinggi tanpa kendala dalam hal baca-tulis” jelasnya pada Jumat (6/3).
Hasilnya luar biasa, santri tercatat mendominasi peringkat tiga besar di sekolah formal mereka.
Pola hidup mandiri tanpa ketergantungan gadget terbukti ampuh mengubah mentalitas anak menjadi lebih berani, bahkan mereka sudah mahir tampil sebagai pemimpin tahlil di hadapan masyarakat umum. (mg3/c1/ynu)
Editor : Anggi Septian A.P.