BLITAR KAWENTAR - Pendekatan dakwah yang kreatif dan berbeda dilakukan Ki Nanang Wisanggeni.
Kiai muda warga Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, ini mulai memanfaatkan media wayang kulit sebagai sarana menyampaikan ceramah keagamaan.
Ya, inovasi metode berdakwah ala Ki Nanangg Wisanggeni tersebut dinilai mampu menjembatani pesan-pesan Islam dengan budaya lokal yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Jawa.
Melalui cara ini, dakwah tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi juga divisualisasikan melalui alur cerita dan karakter wayang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam setiap kesempatan pengajian yang dia isi, suasana tampak berbeda dari biasanya.
Di sela lantunan ayat suci Alquran dan tausiah, hadir pertunjukan wayang kulit yang dimainkan langsung oleh sang kiai.
Ceramah tidak lagi bersifat satu arah, tetapi mengalir mengikuti jalan cerita wayang yang dibawakan.
Jemaah pun tampak lebih fokus menyimak karena pesan keagamaan disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami.
Dalam berdakwah, dia memadukan peran sebagai penceramah sekaligus dalang. Melalui tokoh-tokoh wayang, Ki Nanang menyisipkan nilai-nilai Islam yang relevan dengan konteks Ramadan, seperti pentingnya menahan hawa nafsu, melatih kesabaran, memperbanyak rasa syukur, serta menjaga hubungan baik antarsesama.
Menurut Ki Nanang, penggunaan wayang sebagai media dakwah berangkat dari ketertarikannya terhadap seni tradisional Jawa sejak menempuh pendidikan di pesantren.
Ketertarikan itu membuatnya mendalami karakter, simbol, dan filosofi wayang, yang ternyata memiliki banyak kesesuaian dengan nilai-nilai moral dalam ajaran Islam.
“Setelah saya pelajari ternyata banyak nilai luhur budaya kita yang berhubungan dengan tingkah laku. Jadi penting untuk dipelajari guna memberikan pemahaman pada anak-anak muda,” terangnya.
Dari situlah muncul gagasan untuk menjadikan wayang sebagai sarana dakwah yang lebih kontekstual.
“Saya punya inisiatif menggunakan media wayang. Sejak di pesantren memang suka wayang, lalu mencoba memahami karakteristik budaya wayang,” tutur pria 47 tahun ini.
Selain latar belakang pesantren, pengalaman warga Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, tersebut sebagai seorang pendidik juga turut membentuk metode dakwahnya. Dia terbiasa menggunakan berbagai media pembelajaran agar materi dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.
Pengalaman tersebut kemudian diterapkan dalam ceramah keagamaan sehingga dakwah tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga komunikatif dan edukatif.
“Dalam pengalaman saya sebagai pendidik, diperlukan adanya media belajar. Dari situ, saya memilih wayang kulit yang merupakan ciri khas kita sebagai orang jawa. Walaupun kita orang Islam, kita tidak mengingkari bahwa kita hidup di tanah Jawa,” paparnya.
Dalam pementasan wayang yang dibawakannya, Ki Nanang kerap mengangkat cerita tentang tokoh yang dihadapkan pada persoalan kehidupan sehari-hari. Mulai dari konflik batin, godaan duniawi, hingga pentingnya memilih jalan yang benar.
Cerita-cerita tersebut kemudian dikaitkan dengan pesan Ramadan sehingga jamaah dapat menangkap makna ibadah puasa secara lebih mendalam dan aplikatif.
Pendekatan ini terbukti mampu menarik perhatian jemaah lintas usia. Anak-anak yang biasanya sulit berkonsentrasi saat pengajian tampak lebih antusias mengikuti jalannya cerita.
Sementara jemaah dewasa merasa lebih mudah mencerna pesan-pesan keagamaan karena disampaikan melalui simbol dan narasi yang familier.
Dengan memadukan kearifan lokal dan nilai-nilai Islam, dakwah yang disampaikan Ki Nanang menjadi lebih membumi dan dekat dengan realitas masyarakat.
Metode ini sekaligus menunjukkan bahwa dakwah dapat disampaikan secara kreatif tanpa meninggalkan substansi ajaran.
Pendekatan semacam ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para dai lainnya dalam menyampaikan pesan keagamaan yang relevan, kontekstual, dan tetap berakar pada budaya lokal.(*/c1/sub)
Editor : Anggi Septian A.P.