BLITAR KAWENTAR - Ada yang berbeda dari suasana sahur di Dusun Termas, Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Para pemuda setempat memilih ronda sahur dengan cara kreatif, yakni menggunakan alat musik tradisional ketimbang sound system. Tentunya ini menjadi hal yang langka di era serbateknologi saat ini.
Ya, ronda sahur sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia. Khususnya di Blitar dan sekitarnya.
“Peh sampun dangu Mas ini. Sampun dados tradisi teng mriki (sudah lama ini, Mas. Sudah jadi tradisi di sini, Red),” ujar Muhammad Asyharil Ramadhani, salah satu pemuda Dusun Termas, kepada Koran ini, Senin (2/3).
Asyharil mengakatan, ronda sahur dilakukan mulai pukul 01.00 hingga 03.00 WIB. Biasanya diikuti lebih dari 10 orang pemuda, meski terkadang jumlahnya kurang dari itu.
Mereka berkeliling kampung sambil memainkan alat musik tradisional berupa kentongan yang terbuat dari bambu untuk membangunkan warga makan sahur.
Menurutnya, penggunaan alat musik tradisional dipilih karena dinilai lebih ramah dan tidak mengganggu warga yang sedang beristirahat.
Selain itu, suara yang dihasilkan juga lebih nyaman. ”Alhamdulillah lebih bahagia. Kalau pakai sound rasanya kurang baik karena bisa mengganggu masyarakat yang istirahat. Kalau pakai alat tradisional seperti ini lebih adem ayem, masyarakat juga suka,” tuturnya.
Selain menjaga tradisi, kegiatan ini juga menjadi bukti kekompakan generasi muda Dusun Termas. Dia menyebut regenerasi tetap kuat dan pemuda masih antusias terlibat dalam ronda sahur setiap Ramadan.
Di tengah maraknya penggunaan pengeras suara modern, kreativitas pemuda Dusun Termas ini justru menghadirkan nuansa yang lebih hangat dan penuh kebersamaan.
Tradisi sederhana tersebut pun menjadi warna tersendiri dalam Ramadan. ”Yang penting, kami tetap berusaha untuk kompak serta menjaga kerukunan antarwarga,” pungkasnya. (*/c1/sub)
Editor : Anggi Septian A.P.