Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Melihat Sentra Produksi Gula Kelapa di Desa Gledug Blitar Jelang Lebaran

M. Subchan Abdullah • Kamis, 12 Maret 2026 | 13:30 WIB

 SIBUK: Pekerja mengolah nira kelapa menjadi gula Jawa di Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Biltar.
SIBUK: Pekerja mengolah nira kelapa menjadi gula Jawa di Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Biltar.

 

BLITAR KAWENTAR - Gula kelapa menjadi salah satu bahan pokok yang selalu laris menjelang Lebaran. Buktinya, produksi gula kelapa di Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar meningkat seiring tingginya pesanan. Permintaan tak hanya lokal, tetapi juga dari luar daerah.

Kepulan asap dari tungku itu hampir memenuhi seisi ruangan dapur, tempat produksi gula kelapa. Aroma manis dari gula berwarna coklat itu langsung menyeruak. Seakan menggoda lidah untuk mencicipi pemanis tradisional yang disebut juga dengan gula Jawa tersebut.

Beberapa perempuan tampak sibuk mengolah gula kelapa tersebut. Ada yang mengaduk nira di atas wajan hingga mengental dan sebagian lain sibuk mencetak sebelum nantinya mengeras. Semua tahapan produksi gula dilakukan dengan teliti agar kualitas tetap terjaga.

Adalah Sulis Imroah, salah satu produsen gula kelapa di Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon.

Usaha pembuatan gula Jawa tersebut terus dilestarikan secara tradisional. Biasanya, Ramadan dan Lebaran menjadi momen penting karena permintaan terhadap gula kelapa sedang tinggi-tingginya. 

Momen tersebut tengah dirasakan Sulis. Dia mengaku pesanan gula kelapa meningkat sejak memasuki Ramadan. Jika pada hari-hari biasa memproduksi sekitar 300 kilogram (kg) per hari, kini naik mencapai 400 hingga 500 kg per hari untuk memenuhi permintaan pasar.

"Mendekati Lebaran seperti saat ini untuk pesanan memang jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa. Produksi bisa sampai 500 kilogram sehari," ungkapnya. 

Sulis menjelaskan, pembuatan gula kelapa di tempatnya masih mempertahankan cara tradisional.

Nira kelapa yang sudah didapat lalu direbus selama beberapa jam hingga mengental atas tungku api. Setelah matang, barulah dicetak menjadi gula kelapa sesuai ukuran yang sudah ditentukan.

Selama Ramadan, jam kerja pekerja dimulai sejak pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 15.00 WIB.

Baca Juga: Persib Bandung Bungkam Persik Kediri 3-0: Dominasi Pangeran Biru di GBLA dan Ancaman Nyata Bagi Borneo FC

Pesanan gula kelapa produksi Sulis tak hanya dari Blitar, tetapi juga dari daerah sekitarnya. Seperti Jakarta, Malang, dan Surabaya. Bahkan sampai ada yang dikirim hingga Hongkong.

Gula kelapa produksi Sulis dibanderol seharga Rp 21.500 per kg. Dalam sehari, dia membutuhkan sekitar 200 liter air nira kelapa sebagai bahan baku.

Selama ini, nira kelapa diperoleh dari para petani di Desa Gledug serta desa tetangga seperti Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok.

Meski permintaan melonjak, dia mengaku penjualan gula kelapa miliknya tetap stabil sepanjang tahun dengan produksi rata-rata sekitar 8 ton per bulan.

"Sebenarnya untuk pesanan tetap ada setiap bulannya. Hanya saja menjelang Lebaran meningkat lebih banyak dibanding bulan-bulan biasanya. Ini sudah rutin tiap tahun," pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#produksi #gula kelapa #gula jawa #tradisional #blitar #sentra #Permintaan #jelang lebaran