Blitar - Upaya menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian terus dilakukan melalui berbagai inovasi pembelajaran di sekolah. Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) dan SMKN 1 Kademangan Blitar telah menjalin kerja sama sejak tahun 2020 untuk memperkenalkan praktik pertanian modern kepada para siswa.
Program tersebut diawali dengan pengenalan praktik budidaya pertanian yang baik melalui penanaman labu madu dari Cap Panah Merah. Tanaman ini kemudian berkembang menjadi salah satu ikon hortikultura di SMKN 1 Kademangan, khususnya pada Program Studi Agribisnis Tanaman. Hasil panennya tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi siswa, tetapi juga dipasarkan ke supermarket serta lingkungan sekitar sekolah.
Kerja sama tersebut berlanjut pada tahun 2022 melalui proyek urban farming. Dalam program ini, para siswa diajak memanfaatkan lahan sempit untuk kegiatan budidaya dengan sistem berkebun dalam kotak dan vertikal.
Para siswa juga dibekali pengetahuan tentang teknik budidaya yang baik, mulai dari penggunaan benih berkualitas, pemupukan berimbang, hingga pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.
Berbagai varietas benih dari Cap Panah Merah digunakan dalam kegiatan tersebut, antara lain pakcoy Naura, selada Grand Rapids, kangkung Serimpi, semangka Palguna, mentimun Baby 007, serta sawi Shinta.
Pada tahun 2025, kerja sama kembali dilanjutkan dengan proyek P4G (Partnering for Green Growth and the Global Goals 2030) dalam penerapan teknologi biochar. Dalam program ini, biochar digunakan sebagai bahan pembenah tanah untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah.
Biochar dicampurkan dengan pupuk kandang yang telah difermentasi selama kurang lebih dua minggu. Proses fermentasi tersebut juga ditambahkan pupuk hayati Trichoderma yang berfungsi sebagai agen hayati dalam mencegah serangan penyakit tanaman, khususnya pada bawang merah varietas Merdeka dan cabai merah keriting varietas Tangguh.
Pengawas kebun SMKN 1 Kademangan, Aziz Setyawan, menjelaskan penggunaan biochar yang dikombinasikan dengan pupuk organik dan pupuk hayati mampu menekan penggunaan pupuk kimia NPK. Jika sebelumnya penggunaan pupuk NPK mencapai 35 kilogram untuk lahan seluas 350 meter persegi, kini dapat ditekan menjadi sekitar 20 kilogram.
Menurutnya, penggunaan biochar mampu mengurangi pencucian dan penguapan unsur hara di dalam tanah, meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman, serta memperkaya kandungan bahan organik dan karbon tanah.
Baca Juga: Pemkot Blitar Gelontorkan THR Lebaran untuk ASN Capai Rp20 Miliar
“Selain itu, penambahan biochar membuat struktur tanah menjadi lebih gembur dan lebih tahan terhadap cekaman air. Saat musim hujan, tanah juga tidak mudah tergenang karena aerasi tanah menjadi lebih baik sehingga menghasilkan panen yang lebih optimal,” ujar Aziz.
Yustinanda Rahma Dewi S.P, M.Pd. selaku Kepala Jurusan Agribisnis Tanaman, mengucapkan terimakasih banyak atas kerjasama yang diberikan oleh YBTS kepada jurusan Agribisnis Tanaman di SMKN 1 Kademangan, dalam proyek pemanfaatan biochar. “Kami memandang proyek ini sebagai langkah yang sangat positif dan strategis yang banyak memberikan banyak manfaat bagi siswa.
Kesimpulan dari kerjasama ini dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam pengolahan media tanam, dosis dan aplikasi biochar, pengamatan pertumbuhan tanaman, dan analisis hasil panen. Dengan berbagai kegiatan tersebut tentunya ini dapat dijadikan mini riset siswa, hasilnya dapat menjadi bahan laporan praktik, karya ilmiah siswa maupun inovasi sekolah”.
Melalui berbagai program kerja sama tersebut, diharapkan minat siswa terhadap bidang pertanian semakin meningkat. Inovasi dan teknologi yang diperkenalkan juga menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menghasilkan panen yang optimal sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk terjun dan berkontribusi dalam sektor ini.
Editor : Fajar Rahmad Ali Wardana