SAMBUT NYEPI: Masyarakat menyaksikan pawai ogoh-ogoh atau tawur kesanga sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, kemarin (18/3).
BLITAR KAWENTAR - Suasana ruang terbuka hijau (RTH) Wlingi dipenuhi nuansa sakral sekaligus meriah dalam pelaksanaan upacara Tawur Kesanga dan pawai ogoh-ogoh, kemarin (18/3).
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Hari Raya Nyepi yang digelar umat Hindu se-Jawa Timur.
Seorang lelaki berseragam panitia dengan menceritakan terkait kegiatan ritual ini. Dia adalah Setiyoko, yang juga ketua panitiakegiatan Tawur Kesanga ini.
Baca Juga: Potensi Investasi Kerja Sama Pengelolaan Sampah di Kota Blitar Masih Menemui Kendala
Menurut dia, ini merupakan ritual penyucian alam sebelum umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian. Dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga berlangsung 2 jam, lalu dilanjutkan dengan pawai ogoh-ogoh.
“Tawur Agung ini adalah upacara pembersihan sebelum Nyepi. Dimulai dari melasti, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan unsur alam, termasuk yang berkaitan dengan buta kala,” ujar Setiyoko.
Dia melanjutkan, ogoh-ogoh yang diarak dalam pawai melambangkan butakala atau sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Melalui prosesi tersebut, diharapkan energi negatif dapat dinetralisasi.
Umat Hindu yang memikul ogoh-ogoh ini memulai perjalannya dari RTH Wlingi menuju ke utara Pasar Wlingi melewati Jalan Bromo. Lalu, menuju ke arah Jalan Merapi hingga memutar di Jalan Raya Bening.
Kemudian terakhir melewati Jalan Tembus dan menyentuh garis finis di ujung gang tersebut.
Ogoh-ogoh ini merupakan simbol keburukan sehingga setelah diarak nanti akan dibakar sebagai bentuk menetralisasi hal-hal negatif. Namun sebelumnya, ogoh-ogoh juga diarak keliling desa.
Tercatat 54 ogoh-ogoh ikut serta dalam pawai tersebut. Setelah prosesi di RTH Wlingi, masing-masing peserta akan kembali ke wilayahnya untuk melanjutkan arak-arakan sebelum dilakukan pembakaran di lokasi yang telah ditentukan.
Baca Juga: Hadirkan Kitab-Kitab yang Belum Pernah Diajarkan di Ponpes Nurul Iman Garum Blitar
“Setelah dari sini, ogoh-ogoh dibawa ke kampung masing-masing, diarak keliling, lalu dibakar di tempat yang aman,” imbuhnya.
Setiyoko menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Nyepi yang akan dimulai keesokan harinya hingga sehari penuh, sebelum ditutup dengan Ngembak Geni.
Menariknya, pelaksanaan tahun ini dipusatkan di Blitar sebagai bagian dari kegiatan umat Hindu tingkat Jawa Timur.
Selain itu, waktu pelaksanaan juga dimajukan agar tidak mengganggu masyarakat muslim yang tengah menjalankan ibadah Ramadan.
Sementara itu,Bupati Blitar Rijanto mengatakan, pawai ogoh-ogoh dinilai tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sarat makna budaya dan nilai kebersamaan.
“Ini bukan sekadar atraksi, tetapi simbol kearifan budaya yang mengajarkan kita untuk mengendalikan sifat negatif demi kehidupan yang harmonis,” ujarnya.
Baca Juga: Hadirkan Kitab-Kitab yang Belum Pernah Diajarkan di Ponpes Nurul Iman Garum Blitar
Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan kekayaan tradisi serta semangat gotong royong masyarakat Kabupaten Blitar dalam menjaga keberagaman. Sebab, perbedaan bukan menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan.
Rijanto juga menilai pawai ogoh-ogoh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah
. Jika dikemas dengan baik, kegiatan ini diyakini mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Kegiatan ini bisa menjadi agenda budaya tahunan yang menarik wisatawan dan berdampak pada ekonomi masyarakat. Kami berharap ke depan kreativitas peserta terus meningkat sehingga pawai ogoh-ogoh semakin inovatif dan menjadi agenda yang selalu dinantikan masyarakat,” pungkasnya.(*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah