BLITAR KAWENTAR- Bagi Gen Z, Lebaran tahun ini bukan lagi soal antre sungkeman yang melelahkan, melainkan soal seberapa estetik ucapan di story Instagram atau seberapa lancar koneksi saat video call grup.
Fenomena pergeseran dari tatap muka ke layar gadget ini menjadi sorotan tajam bagi pengamat komunikasi, Anita Reta Kusumawijayanti.
Baca Juga: Beli BBM, Disperindag Kabupaten Blitar Imbau Masyarakat Lebih Teliti saat Transaksi
Menurut Anita, Gen Z lebih memilih chat group atau unggahan medsos dengan alasan fleksibilitas.
Ini adalah bentuk adaptasi teknologi yang tak terelakkan.
Baca Juga: Hilal di Kota Blitar Tak Nampak, Hari Raya Idulfitri 1447 H Ikut Versi Pemerintah
Meski digitalisasi mempermudah akses, ada satu hal yang hilang yakni kedalaman emosional.
“Teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kedalaman emosional atau 'rasa' yang kuat seperti saat tatap muka langsung.
Baca Juga: Apa pelajaran yang bisa dibawa setelah Ramadan berakhir?, Simak Penjelasan MUI Kabupaten Blitar
Dalam ilmu komunikasi, ada konsep richness of media. Idealnya memang bertemu fisik, karena di sana ada komunikasi verbal dan nonverbal yang muncul bersamaan, menciptakan kehangatan, rasa hormat, dan empati," ujar Dosen Ilmu Komunikasi UNISBA Blitar ini.
Meski pesan teks atau video singkat bisa menjadi alternatif saat jarak memisahkan, kehadiran fisik tetap menjadi pemegang kasta tertinggi menjaga kehangatan hubungan keluarga.
Gen Z sering kali terjebak dalam silent silaturahmi, hanya memposting foto tanpa benar-benar berkunjung.
Di satu sisi sebagai eksistensi diri dan validasi di medsos, di sisi lain sebagai cara menjaga privasi karena keterbatasan fisik.
“Silaturahmi bukan sekadar bertemu fisik, tapi tentang kedekatan emosional. Maka, tidak cukup hanya melalui unggahan medsos.
Teknologi seharusnya mempermudah komunikasi, sementara pertemuan langsung tetap menjaga kehangatan,” pungkasnya. (sub/c1/ynu)
Editor : Oksania Difa Ilmada