Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Budayawan Blitar Bicara Tentang Tradisi Kupatan di Jawa hingga Keterlibatan Gen Z

Fajar Rahmad Ali Wardana • Kamis, 26 Maret 2026 | 13:42 WIB

SUHENDRO WINARSO - Budayawan Blitar
SUHENDRO WINARSO - Budayawan Blitar

BLITAR KAWENTAR - Tradisi Lebaran Ketupat yang selama ini lekat dengan budaya Jawa, ternyata menyimpan makna filosofis yang dalam.

Di balik bentuknya yang sederhana, ketupat mengandung pesan moral yang mendalam.

Baca Juga: Review Toyota Mirai Gen 2: Mobil hidrogen pertama di Indonesia dengan jarak tempuh 850 KM. Isi bahan bakar cuma 5 menit, emisi cuma uap air!

Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan keratabasa dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.

Filosofi ini menjadi pengingat setiap manusia harus berani introspeksi diri.

Baca Juga: Bingung pilih mobil listrik atau hidrogen? Simak rekomendasi mobil hidrogen FCEV dengan biaya operasional kompetitif dan teknologi paling ramah lingkungan di sini!

Tradisi ini juga mengajarkan nilai yang lebih tinggi, yakni memaafkan.

Tidak hanya meminta maaf, seseorang juga dituntut memiliki kelapangan hati untuk memaafkan.

Baca Juga: Toyota guncang pasar! Mesin hidrogen baru tantang Tesla. Isi bahan bakar cuma 5 menit, jarak tempuh 650 km. Cek rekomendasi mobil hidrogen masa depan di sini!

“Orang baik itu berani meminta maaf, tapi orang hebat adalah yang mampu memaafkan. Filosofi kupat mengajarkan keduanya,” jelas Budayawan Blitar, Suhendro Winarso.

Suhendro mengakui, geliat tradisi ini mulai mengalami penurunan, setidaknya jika dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Cek rekomendasi mobil hidrogen Toyota Mirai di Indonesia! Target pasar sebelum 2030, isi bahan bakar cuma 5 menit, dan solusi nol emisi uap air.

Perubahan gaya hidup serta perkembangan teknologi turut memengaruhi cara masyarakat, khususnya generasi muda dalam memaknai momen silaturahmi.

Namun begitu, dia tidak sepenuhnya menilai Gen Z kehilangan jati diri dalam merayakan Lebaran.

Baca Juga: Lebih unggul dari EV? Intip rekomendasi mobil hidrogen Toyota Hilux. Teknologi ramah lingkungan, nol emisi, dan performa tangguh untuk masa depan.

Generasi muda tetap memandang silaturahmi sebagai hal penting, hanya saja cara yang digunakan kini berbeda dan lebih adaptif dengan perkembangan zaman.

“Gen Z tidak kehilangan makna, hanya bentuknya yang berubah. Bisa lewat teknologi, chat, atau medsos. Karena kesibukan juga, tatap muka jadi berkurang,” ungkapnya.

Baca Juga: Review Jujur Chery J6: Mobil Listrik Offroad Paling Ganteng, Simak Kelebihan dan Kekurangannya Sebelum Beli!

Suhendro meyakini, tradisi ini sejatinya masih memiliki peluang besar tetap lestari.

Kuncinya terletak pada peran generasi tua dalam mentransfer nilai-nilai budaya dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami Gen Z.

Baca Juga: SPMB Tahun Ini, Dispendik Kota Blitar Targetkan Rombel Bisa Terisi Penuh

“Kalau para sepuh bisa menyampaikan maknanya dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan pola pikir Gen Z, saya yakin tradisi ini tetap bisa bertahan,” pungkasnya. (jar/ynu)

 

Editor : Oksania Difa Ilmada
#Tradisi Lebaran #Tradisi Kupatan #kata budayawan #SUHENDRO WINARSO - Budayawan Blitar #lebaran 2026