BLITAR KAWENTAR - Tradisi Lebaran Ketupat yang selama ini lekat dengan budaya Jawa, ternyata menyimpan makna filosofis yang dalam.
Di balik bentuknya yang sederhana, ketupat mengandung pesan moral yang mendalam.
Dalam bahasa Jawa, kupat merupakan keratabasa dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Filosofi ini menjadi pengingat setiap manusia harus berani introspeksi diri.
Tradisi ini juga mengajarkan nilai yang lebih tinggi, yakni memaafkan.
Tidak hanya meminta maaf, seseorang juga dituntut memiliki kelapangan hati untuk memaafkan.
“Orang baik itu berani meminta maaf, tapi orang hebat adalah yang mampu memaafkan. Filosofi kupat mengajarkan keduanya,” jelas Budayawan Blitar, Suhendro Winarso.
Suhendro mengakui, geliat tradisi ini mulai mengalami penurunan, setidaknya jika dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Perubahan gaya hidup serta perkembangan teknologi turut memengaruhi cara masyarakat, khususnya generasi muda dalam memaknai momen silaturahmi.
Namun begitu, dia tidak sepenuhnya menilai Gen Z kehilangan jati diri dalam merayakan Lebaran.
Generasi muda tetap memandang silaturahmi sebagai hal penting, hanya saja cara yang digunakan kini berbeda dan lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
“Gen Z tidak kehilangan makna, hanya bentuknya yang berubah. Bisa lewat teknologi, chat, atau medsos. Karena kesibukan juga, tatap muka jadi berkurang,” ungkapnya.
Suhendro meyakini, tradisi ini sejatinya masih memiliki peluang besar tetap lestari.
Kuncinya terletak pada peran generasi tua dalam mentransfer nilai-nilai budaya dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami Gen Z.
Baca Juga: SPMB Tahun Ini, Dispendik Kota Blitar Targetkan Rombel Bisa Terisi Penuh
“Kalau para sepuh bisa menyampaikan maknanya dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan pola pikir Gen Z, saya yakin tradisi ini tetap bisa bertahan,” pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : Oksania Difa Ilmada