Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kupatan Lebaran, Tradisi Lama Indonesia yang Mulai Alami Pergeseran Makna di Lingkungan Serba Modern

M. Subchan Abdullah • Kamis, 26 Maret 2026 | 13:42 WIB

Tradisi Lama, Makna Alami Pergeseran
Tradisi Lama, Makna Alami Pergeseran

BLITAR KAWENTAR - Tradisi kupatan masih bertahan di tengah masyarakat Jawa.

Namun di era modern, maknanya mulai mengalami pergeseran.

Baca Juga: Bosan cas mobil listrik lama? Toyota Mirai hadir dengan pengisian hidrogen cepat & fitur keselamatan canggih. Simak review lengkap spesifikasinya!

Shalsa Aina Widi Zahrafani, mahasiswi Sosiologi Universitas Jember mengatakan, tradisi ini di lingkungannya masih dilakukan, meski tidak sekuat dulu.

Masyarakat masih memasak ketupat dan makan bersama keluarga atau tetangga.

Baca Juga: Kisah Haru Kesetiaan Riko Simanjuntak di Persija: Tolak Tawaran Menggiurkan Klub Thailand dan Singapura Demi Janji Setia di Jakarta!

Namun, di lingkungan yang lebih modern, tradisi ini mulai meredup.

“Banyak Gen Z yang hanya tahu kupatan sebatas makan ketupat tanpa memahami proses dan maknanya secara penuh,” ujarnya.

Baca Juga: Bingung pilih mobil listrik atau hidrogen? Simak rekomendasi mobil hidrogen FCEV dengan biaya operasional kompetitif dan teknologi paling ramah lingkungan di sini!

Meski begitu, kupatan tetap relevan bagi Gen Z dan bisa menjadi momen sejenak berhenti dari kesibukan.

Gen Z kini memaknai kupatan dengan cara berbeda, seperti membagikan momen di medsos.

Baca Juga: Cek rekomendasi mobil hidrogen Toyota Mirai di Indonesia! Target pasar sebelum 2030, isi bahan bakar cuma 5 menit, dan solusi nol emisi uap air.

Kupatan itu seperti waktu untuk 'pause', kembali ke hal-hal sederhana. Ini juga cara supaya kita tetap terhubung dengan budaya sendiri,” tambahnya.

Pendapat serupa disampaikan Oksania Difa Ilmada, mahasiswi Universitas Negeri Malang asal Garum.

Baca Juga: Gagah Banget! Chery J6 Mobil Listrik Offroad Pertama di Indonesia Resmi Meluncur, Harga 500 Jutaan Spek Dewa

Kupatan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga sarat nilai kehidupan.

Kupatan mengajarkan kebersamaan, saling berbagi, dan menjaga silaturahmi. Walaupun sekarang dirayakan lebih sederhana, esensinya tetap sama, yaitu saling memaafkan,” jelasnya.

Baca Juga: Punya Tampang Gahar Tapi Harga Masuk Akal, Intip Kelebihan dan Kekurangan Chery J6 Si Mobil Listrik Offroad Bergaya Boxy

Pemaknaan kupatan dari keluarganya, khususnya sang ibu adalah kupat merupakan singkatan “ngaku lepat” atau mengaku salah, yang mencerminkan kerendahan hati meminta maaf.

Nilai ini biasanya diwujudkan melalui tradisi saling berkunjung dan mempererat hubungan setelah Idul Fitri. (mg3/ynu)

 

Editor : Oksania Difa Ilmada
#Tradisi Lebaran #Tradisi Kupatan #Makna Tradisi #kata gen z #modernisasi