BLITAR KAWENTAR - Tradisi kupatan masih bertahan di tengah masyarakat Jawa.
Namun di era modern, maknanya mulai mengalami pergeseran.
Shalsa Aina Widi Zahrafani, mahasiswi Sosiologi Universitas Jember mengatakan, tradisi ini di lingkungannya masih dilakukan, meski tidak sekuat dulu.
Masyarakat masih memasak ketupat dan makan bersama keluarga atau tetangga.
Namun, di lingkungan yang lebih modern, tradisi ini mulai meredup.
“Banyak Gen Z yang hanya tahu kupatan sebatas makan ketupat tanpa memahami proses dan maknanya secara penuh,” ujarnya.
Meski begitu, kupatan tetap relevan bagi Gen Z dan bisa menjadi momen sejenak berhenti dari kesibukan.
Gen Z kini memaknai kupatan dengan cara berbeda, seperti membagikan momen di medsos.
“Kupatan itu seperti waktu untuk 'pause', kembali ke hal-hal sederhana. Ini juga cara supaya kita tetap terhubung dengan budaya sendiri,” tambahnya.
Pendapat serupa disampaikan Oksania Difa Ilmada, mahasiswi Universitas Negeri Malang asal Garum.
Kupatan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga sarat nilai kehidupan.
“Kupatan mengajarkan kebersamaan, saling berbagi, dan menjaga silaturahmi. Walaupun sekarang dirayakan lebih sederhana, esensinya tetap sama, yaitu saling memaafkan,” jelasnya.
Pemaknaan kupatan dari keluarganya, khususnya sang ibu adalah kupat merupakan singkatan “ngaku lepat” atau mengaku salah, yang mencerminkan kerendahan hati meminta maaf.
Nilai ini biasanya diwujudkan melalui tradisi saling berkunjung dan mempererat hubungan setelah Idul Fitri. (mg3/ynu)
Editor : Oksania Difa Ilmada