BLITAR KAWENTAR - Tradisi menyajikan ketupat saat Lebaran tak lagi dipandang sekadar hidangan khas.
Bagi sebagian kalangan Gen Z, ketupat justru dimaknai sebagai simbol refleksi diri hingga social reset dalam hubungan sosial.
Salah satu mahasiswa, Rike Diana Putri menilai, filosofi ketupat masih sangat relevan di tengah kompleksitas kehidupan saat ini.
Anyaman janur yang membungkus ketupat mencerminkan rumitnya realitas yang dihadapi anak muda, mulai dari tekanan medsos, karier, hingga dinamika pertemanan dan keluarga.
“Anyaman ketupat itu seperti gambaran hidup kita yang ruwet, penuh tekanan, dan kadang saling tumpang tindih antara ego dan realita,” ujarnya.
Namun, makna utama ketupat terletak pada konsep “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.
Di tengah budaya modern yang cenderung canggung untuk meminta maaf secara langsung, ketupat menjadi simbol penyederhanaan konflik secara emosional.
“Ketupat itu seperti diplomasi. Saat dimakan bersama, itu jadi momen untuk clear cache perasaan, menghapus prasangka dan dendam,” jelasnya.
Bagian dalam ketupat yang berwarna putih bersih melambangkan ketulusan setelah proses introspeksi.
Menurutnya, hal tersebut menjadi simbol bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk kembali ke kondisi yang lebih jernih dan solid.
Bagi Rike, tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, melainkan bentuk self-healing kolektif agar masyarakat dapat melangkah ke depan tanpa beban masa lalu. (kho/ynu)
Editor : Oksania Difa Ilmada