BLITAR KAWENTAR - Bagi sebagian besar masyarakat, Hari Raya Idulfitri identik dengan suasana hangat berkumpul bersama keluarga.
Namun tidak demikian bagi sebagian tenaga kesehatan seperti Mohammad Satriyo Wibowo.
Ketika takbir berkumandang dan keluarga saling bersilaturahmi, dokter muda ini justru tetap berjaga di rumah sakit demi memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan.
dr Mohammad Satriyo Wibowo sudah beberapa kali melewati malam takbiran hingga hari pertama Lebaran dengan bertugas di rumah sakit.
Sejak masa pendidikan hingga kini, momen Lebaran yang dihabiskan di ruang perawatan atau instalasi gawat darurat bukan lagi hal baru.
Dalam profesi dokter, terutama yang berkaitan dengan layanan kegawatan, pelayanan kepada pasien tidak mengenal hari libur.
“Kalau dihitung sejak masa pendidikan sampai sekarang, sudah cukup sering saya bertugas di malam takbiran atau hari pertama Lebaran.
Dalam profesi ini memang sudah menjadi bagian dari tanggung jawab,” ujar warga Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon ini.
Secara manusiawi, dokter yang akrab disapa Satriyo ini mengakui tetap ada rasa ingin berkumpul bersama keluarga seperti kebanyakan orang.
Apalagi Lebaran di Indonesia memiliki makna kebersamaan yang sangat kuat.
Baca Juga: Waspada Ular Masuk Rumah, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Menurut Pemerhati Ular Blitar
Namun di balik itu, dia juga merasakan kepuasan batin tersendiri ketika bisa membantu pasien yang membutuhkan pertolongan.
”Ketika melihat pasien yang sebelumnya dalam kondisi gawat akhirnya stabil atau membaik, ada rasa bahagia tersendiri. Itu menjadi pengingat bahwa profesi ini adalah tentang pengabdian,” kata dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif ini.
Di momen Lebaran, rumah sakit justru sering menghadapi peningkatan beberapa jenis kasus medis.
Salah satu yang paling sering adalah gangguan pencernaan seperti maag, diare, atau kembung.
Kondisi tersebut biasanya dipicu perubahan pola makan saat hari raya.
Selain itu, periode mudik juga kerap memicu peningkatan kasus kecelakaan lalu lintas yang membutuhkan penanganan cepat di IGD maupun kamar operasi.
Belum lagi berbagai kasus kegawatan lain yang memang dapat terjadi kapan saja.
“Rumah sakit tetap harus siap siaga menangani operasi darurat, termasuk operasi persalinan seperti sectio cesarea pada ibu hamil. Kadang juga muncul kasus luka bakar akibat petasan, terutama pada anak-anak,” jelas pria 37 tahun ini.
Baca Juga: Damkar Kabupaten Blitar Berikan Tips Kendaraan Roda Empat Aman dari Kebakaran
Tak hanya itu, Satriyo juga menyebut penyakit metabolik dan kardiovaskular seperti komplikasi diabetes, stroke, hingga serangan jantung juga kerap meningkat saat Lebaran.
Hal tersebut bisa dipicu oleh kelelahan selama perjalanan mudik, kurang istirahat, atau perubahan pola makan.
Di tengah kesibukan tersebut, ada banyak momen yang meninggalkan kesan mendalam.
Salah satu yang paling diingatnya adalah ketika berhasil menangani pasien dalam kondisi gawat hingga akhirnya stabil di hari Lebaran.
Saat itu, keluarga pasien datang dan menyampaikan ucapan terima kasih dengan sangat tulus.
Bagi Satriyo, momen sederhana tersebut terasa sangat menyentuh.
“Ketika melihat pasien akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan lebih baik, rasanya sangat membahagiakan.
Itu membuat kami merasa semua pengorbanan waktu memang berarti,” tutur Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.
Di sisi lain, Satriyo juga harus memberikan pengertian kepada keluarga ketika harus bertugas di hari raya.
Dia biasanya menjelaskan kepada anak-anak maupun pasangan bahwa profesi dokter memiliki tanggung jawab khusus untuk membantu orang lain yang sedang sakit.
Meski tidak selalu bisa merayakan Lebaran tepat di hari raya, dia berusaha mencari waktu lain untuk tetap berkumpul bersama keluarga.
“Dukungan keluarga justru menjadi kekuatan terbesar bagi kami untuk menjalankan tugas,” kata bapak dua anak ini.
Bagi Satriyo, makna kemenangan di hari Lebaran tidak hanya tentang kembali ke fitrah secara spiritual.
Lebih dari itu, kemenangan juga berarti mampu menjalankan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan.
Baca Juga: Gebrakan 2026! Toyota Veloz Hybrid Resmi Meluncur, Mobil Sejuta Umat Kini Makin Irit dan Elit
“Bagi tenaga medis, kemenangan adalah ketika kita bisa tetap melayani dengan hati dan memberikan harapan bagi pasien yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya.
Dia pun mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kesehatan selama merayakan Lebaran.
Baca Juga: Kupatan Lebaran, Tradisi Lama Indonesia yang Mulai Alami Pergeseran Makna di Lingkungan Serba Modern
Salah satunya dengan mengontrol pola makan, terutama makanan tinggi gula, lemak, dan santan yang biasanya banyak tersaji saat hari raya.
”Kemudian cukup beristirahat, terutama bagi yang melakukan perjalanan mudik jarak jauh. Aktivitas fisik ringan serta menjaga asupan cairan juga penting agar tubuh tetap bugar,” imbaunya.
Baca Juga: Mahasiswa Blitar Memaknai Tradisi Kupatan Lebaran: Jadi Simbol Social Reset
Satriyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap bertugas selama hari raya.
“Kita mungkin harus mengorbankan sebagian waktu bersama keluarga. Tapi apa yang kita lakukan memiliki arti besar bagi banyak orang,” pungkasnya. (*/ady)
Editor : Oksania Difa Ilmada