Blitar – H+7 hari raya idul fitri menjadi momen merayakan lebaran ketupat. Agenda tahun di Kampung Coklat kembali dengan menggelar agenda tahunan, yakni Kirab Ketupat Coklat sebagai bagian dari tradisi pascalebaran, pada Sabtu (28/3).
Divisi Quality Assurance dan Penjaminan Mutu Kampung Coklat, Raditya Wempi Anshori, menjelaskan bahwa Kirab Ketupat Coklat merupakan agenda utama dalam rangkaian kegiatan Setelah ramadan. Tradisi ini menjadi manifestasi nilai spiritual yang selama ini melekat kuat di Kampung Coklat.
“Kirab Ketupat Coklat ini merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi religius sekaligus nguri-uri budaya leluhur. Setiap tahun selalu kami lakukan dengan berbagai inovasi,” ujar Raditya.
Dia melanjutkan, pada pelaksanaan tahun ini, kirab dikolaborasikan dengan kegiatan pengajian Sabtu pagi sehingga nuansa religius semakin terasa. Ribuan ketupat coklat pun disiapkan untuk para jamaah yang hadir.
Namun yang berbeda, gunungan ketupat coklat kali ini lebih kecil dari tahun sebeluya. Sebab, hanya berukuran 1 meter saja, dan diarak dari pintu satu kampung coklat hingga panggung yang berada di tengah area wisata tersebut. Bahkan, momen biasanya warga berebutan ketupat coklat pada gunungan itu, kini hilang.
“Kami menyiapkan ribuan ketupat coklat, menyesuaikan jumlah jamaah pengajian yang mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 orang. Dibagikan dengan sterofom seperti ricebowl,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Kirab Ketupat Coklat merupakan inovasi menarik dari tradisi yang biasa dirayakan masyarakat sepekan setelah Idulfitri.
Dia menilai, kegiatan tersebut tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai event wisata budaya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ini bisa menjadi event wisata budaya yang berdampak pada ekonomi masyarakat, baik UMKM maupun kehidupan sosial di sekitar,” imbuhnya.
Rijanto juga mendorong keterlibatan masyarakat secara lebih luas agar kegiatan tersebut semakin berkembang. Ia berharap kirab dapat dikemas lebih besar dengan partisipasi dari berbagai desa sehingga menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Blitar.
“Kalau dikemas lebih besar dan melibatkan masyarakat, ini bisa menjadi event wisata budaya yang kuat di Blitar bahkan Jawa Timur,” pungkasnya.(jar)
Editor : Fajar Rahmad Ali Wardana