BLITAR KAWENTAR – H+7 hari raya idul fitri menjadi momen merayakan lebaran ketupat.
Agenda tahun di Kampung Coklat kembali dengan menggelar agenda tahunan, yakni Kirab Ketupat Coklat sebagai bagian dari tradisi pascalebaran, pada Sabtu (28/3).
Divisi Quality Assurance dan Penjaminan Mutu Kampung Coklat, Raditya Wempi Anshori, menjelaskan bahwa Kirab Ketupat Coklat merupakan agenda utama dalam rangkaian kegiatan Setelah ramadan.
Tradisi ini menjadi manifestasi nilai spiritual yang selama ini melekat kuat di Kampung Coklat.
Baca Juga: Modal 80 Jutaan Dapat Mobil Keluarga Apa? Ini 5 MPV Bekas Paling 'Worth It' di Tahun 2026
“Kirab Ketupat Coklat ini merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi religius sekaligus nguri-uri budaya leluhur. Setiap tahun selalu kami lakukan dengan berbagai inovasi,” ujar Raditya.
Dia melanjutkan, pada pelaksanaan tahun ini, kirab dikolaborasikan dengan kegiatan pengajian Sabtu pagi sehingga nuansa religius semakin terasa.
Ribuan ketupat coklat pun disiapkan untuk para jamaah yang hadir.
Namun yang berbeda, gunungan ketupat coklat kali ini lebih kecil dari tahun sebeluya.
Baca Juga: Obral Mobil Bekas Murah Blitar: Mulai 30 Jutaan, Ada Kijang LGX hingga Honda Jazz!
Sebab, hanya berukuran 1 meter saja, dan diarak dari pintu satu kampung coklat hingga panggung yang berada di tengah area wisata tersebut.
Bahkan, momen biasanya warga berebutan ketupat coklat pada gunungan itu, kini hilang.
Baca Juga: Potensi Musim Kemarau Panjang hingga Cuaca Panas, Peternak Unggas di Blitar Diminta Waspada
“Kami menyiapkan ribuan ketupat coklat, menyesuaikan jumlah jamaah pengajian yang mencapai sekitar 4.000 hingga 5.000 orang. Dibagikan dengan sterofom seperti ricebowl,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Baca Juga: Tahun Muda Minim Drama! Ini 5 Rekomendasi Mobil 80 Jutaan Terbaik 2026 yang Siap Pakai Puluhan Tahun
Menurutnya, Kirab Ketupat Coklat merupakan inovasi menarik dari tradisi yang biasa dirayakan masyarakat sepekan setelah Idulfitri.
Dia menilai, kegiatan tersebut tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai event wisata budaya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Jangan Jadi Korban Odometer Mundur! Ini 8 Rekomendasi Mobil Bekas Paling Bandel di Tahun 2026
“Ini bisa menjadi event wisata budaya yang berdampak pada ekonomi masyarakat, baik UMKM maupun kehidupan sosial di sekitar,” imbuhnya.
Rijanto juga mendorong keterlibatan masyarakat secara lebih luas agar kegiatan tersebut semakin berkembang.
Ia berharap kirab dapat dikemas lebih besar dengan partisipasi dari berbagai desa sehingga menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Blitar.
“Kalau dikemas lebih besar dan melibatkan masyarakat, ini bisa menjadi event wisata budaya yang kuat di Blitar bahkan Jawa Timur,” pungkasnya.(jar)
Editor : Oksania Difa Ilmada