
BLITAR KAWENTAR - Kebakaran menjadi salah satu hal yang wajib diwaspadai oleh petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Karena itu, petugas yang hampir setiap hari bergelut di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) setidaknya memiliki kemampuan meminilisasi risiko kebakaran.
Baca Juga: Merasakan Menginap di Hotel Mewah 4 Lantai di Pusat Kota Blitar, Cek Disini
Seperti di SPPG Kauman kemarin (2/4), para petugas mendapat pelatihan penanganan kebakaran dari UPT Damkar Kota Blitar.
SPPG menjadi lembaga nasional yang kini menjadi pendamping anak sekolah untuk pemenuhan asupan MBG.
Meskipun begitu, pekerjaan di dalamnya tentu banyak risiko. Salah satunya kebakaran.
Sebab, aktivitas mereka banyak meracik makanan di dapur.
Kemarin, tampak petugas damkar membawa beberapa alat, seperti alat pemadam api ringan (APAR), gas elpiji, kain basah, korek api dan drum, tempat menyalakan api.
Saat itu, petugas memang memberikan pelatihan penanganan kebakaran kepada para relawan dapur MBG.
Di hadapan mereka, petugas damkar menunjukkan kemampuan bagaimana menaklukkan api.
Ada sekitar 50 relawan dapur MBG yang memperhatikan tiga orang laki-laki damkar menjelaskan materi.
Baca Juga: Honda Jazz 2026 Bocor di China, Desain Baru Jadi Sorotan, Akankah Comeback ke Indonesia?
Mereka duduk bersila di depan halaman dapur, dan ada beberapa yang semangat untuk bertanya terkait hal yang dijelaskan oleh petugas.
”Kami memberikan beberapa pelatihan. Pertama terkait cara mematikan saat kompor darurat kebakaran atau kebocoran gas elpiji. Kami langsung membawa alatnya untuk praktik langsung di tempat,” ujar Petugas UPT Damkar Kota Blitar, Supriyadi.
Baca Juga: Dinkes Kabupaten Blitar Imbau Masyarakat Waspada Penyebaran Leptospirosis di Lingkungan Lembap
Dia menceritakan, menangani kompor dengan kondisi darurat kebakaran tentu diusahakan tidak panik.
Lalu, berusaha mematikan api dengan kain tebal dan basah untuk menutupi gas atau kompor yang terbakar.
Meskipun begitu, dalam menutupi api, relawan diarahkan untuk memiliki langkah kuda-kuda.
Tujuannya agar dapat memiliki langkah yang kuat untuk menghindari api dan kembali ke belakang.
Baca Juga: Edukasi Pembatasan Akses Medsos Harus Lintas OPD
Langkah itu merupakan cara tradisional dalam menangani kebakaran yang terjadi pada dapur.
Tidak hanya itu, petugas damkar juga menunjukkan cara penanganan kebakaran dengan tong yang dipenuhi bahan bakar hingga disulutkan api.
Baca Juga: Jumlah Korban Kecelakaan Naik 143 Persen
Mereka diminta untuk praktik langsung dengan menggunakan alat tradisional yakni kain basah.
Tidak hanya itu, tapi juga menggunakan alat modern yaitu APAR.
Baca Juga: Pemkot Blitar Usulkan Wisata Makam Bung Karno Jadi Cagar Budaya Nasional
Ada sekitar tujuh relawan SPPG yang mencoba untuk melakukan simulasi penanganan kebakaran.
Ada yang berani dengan mendengarkan arahan dari petugas damkar sehingga sukses untuk memadamkan api di dalam tong tersebut.
Baca Juga: Di Blitar Marak Terbangkan Balon Udara, Begini Dampaknya yang Terjadi
Namun tidak mudah untuk memadamkan api, terutama bagi orang awam yang baru belajar.
Menurut Supriyadi, memadamkan dengan kain basah tidak sekedar menutupinya saja.
Tentu harus memperhatikan api benar-benar mati, yang ditandai adanya asap putih yang mengepul ke atas.
Setelah itu, mengangkat kain untuk melihat kondisi yang terbakar sudah terkendali.
Ada salah satu relawan SPPG laki-laki yang ragu dalam memadamkan api dengan kain basah.
Sebab, petugas damkar melihat dia maju mundur untuk menutupi tong itu dengan kain.
Ternyata relawan itu memiliki trauma dengan api sehingga merasa takut dekat api.
Namun, relawan itu diberikan kesempatan kedua untuk melawan traumanya dengan memadamkan api.
”Pelatihan ini penting bagi SPPG, karena orang yang ada di dalamnya masih awam dalam penanganan api atau kebakaran. Selain itu, juga untuk mengantisipasi dengan suhu panas kompor di dapur,” ungkapnya.
Supriyadi menyarakan, SPPG wajib memiliki APAR untuk penanganan kebakaran pertama.
Sebab, lokasi UPT Damkar Kota Blitar jauh dari dapur MBG tersebut.
Baca Juga: 5 SUV Paling Irit di Indonesia 2026, Harga 200–300 Jutaan, Konsumsi BBM Tembus 19 Km/L!
Meskipun response time 15 menit, tetapi dengan waktu 5 menit, kebakaran bisa membakar seisi dapur.
Sementara itu, Kepala SPPG Kauman Fardisa Asfa Fikria mengatakan bahwa tujuan pelatihan untuk memingkatkan kapasitas pengalaman dari relawan.
Baca Juga: Dosen Ekonomi di Blitar Bicara Soal Perubahan Pola Pikir Generasi Muda saat Ini
Sebab, kegiatan ini penting bagi pekerja yang berada di dapur MBG untuk mengantisipasi kebakaran.
Meskipun begitu, sebelumnya tempat ini aman dari kebakaran.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Mobil Bekas 80 Jutaan Terbaik: Irit, Bandel, dan Siap Pakai Harian!
“Dengan diadakan pelatihan ini, petugas SPPG dapat mengetahui cara mencegah, identifikasi, dan menangani kebakaran saat di dapur. Sekarang jadi tahu cara melepas selang kompor bocor dan menangani api, baik melalui kain basah dan juga APAR,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly