BLITAR KAWENTAR - Di tengah arus tren fasyen modern, batik masih kerap dianggap kuno oleh sebagian generasi muda.
Hal ini menjadi perhatian Tiara Rahma Anjani, Putri Batik Kota Blitar 2025, yang membawa visi menjadikan batik lebih relevan di kalangan anak muda.
“Batik bukan hanya sekadar kain, tetapi identitas dan bentuk kecintaan terhadap budaya Indonesia,” tegas Tiara tentang Batik.
Berangkat dari keresahan tersebut, Tiara merumuskan misi untuk menghadirkan pendekatan batik yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dia menilai, tantangan terbesar adalah pola pikir generasi muda yang menganggap batik kurang modern.
“Saya pernah mengusulkan penggunaan batik sebagai dresscode acara dengan teman sebaya, tapi banyak yang kurang setuju karena dianggap kurang kekinian,” ungkap pelajar warga Desa Jugo, Kecamatan Kesamben ini.
Dari pengalaman itu, dia menyadari bahwa pelestarian batik perlu diwujudkan melalui langkah nyata.
Salah satunya melalui program “ETIK (Edukasi Batik)” yang menyasar anak usia dini dan dijalankan bersama rekan Putra Putri Batik 2025.
Program ini dikemas secara interaktif, mulai dari penyuluhan singkat hingga praktik menggambar dan mewarnai motif batik khas Kota Blitar.
“Saya ingin menumbuhkan rasa ketertarikan dan kebanggaan terhadap batik sejak dini,” jelasnya.
Selain itu, Tiara juga aktif berkolaborasi dengan komunitas seperti Patria Wastra melalui workshop, pameran, hingga edukasi berkain batik dengan gaya yang lebih modern.
Upaya ini dilakukan agar batik tidak lagi dipandang sebagai pakaian formal, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup.
Pemanfaatan media sosial juga menjadi strategi utama.
Melalui Instagram dan TikTok, Tiara membagikan konten edukasi, mulai dari filosofi motif hingga inspirasi gaya batik.
“Melalui media sosial, saya ingin menunjukkan bahwa batik bisa tetap relevan dan menarik bagi anak muda,” ujar siswi SMN 1 Kesamben ini.
Ke depan, dia berharap upaya tersebut dapat membawa dampak lebih luas, sekaligus mendukung pengrajin dan UMKM batik di Blitar.
“Saya ingin batik Blitar bisa dikenal lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional,” pungkasnya. (mg3/sub/ady)
Editor : Oksania Difa Ilmada