Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Merasakan Spirit Umat Katolik Gereja St Fransiskus Assisi di Desa Mojorejo Blitar yang Masih Lestarikan Tradisi Tablo

M. Subchan Abdullah • Senin, 6 April 2026 | 13:30 WIB

Spirit Umat Gereja Katolik di Desa Mojorejo Lestarikan Tablo - Tanpa Proses Casting, Mayoritas Pemeran Orang Dewasa hingga Lansia
Spirit Umat Gereja Katolik di Desa Mojorejo Lestarikan Tablo - Tanpa Proses Casting, Mayoritas Pemeran Orang Dewasa hingga Lansia

 

BLITAR KAWENTAR - Tablo atau visualisasi jalan salib masih terus dilestarikan oleh Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi di Desa Mojorejo, Kecamatan Wates, dan  konon menjadi satu-satunya gereja yang tetap mempertahankan.

Bukan sekadar pertunjukkan teatrikal, melainkan juga bagian dari tradisi spiritual.

Baca Juga: Dianggap Kuno, Begini Cara Putri Batik Kota Blitar Ini Gaungkan Batik di Kalangan Anak Muda

Langkah kaki para pemeran itu berjalan perlahan menyusuri halaman Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi, Jumat (3/4).

Suasana hening menyelimuti cuaca cerah pagi itu.

Baca Juga: ⁠DPRD Kota Blitar Anjurkan ASN Pergi Kerja ke Kantor Naik Transportasi non-BBM

Lantunan doa yang lirih mengiringi mereka.

Satu per satu adegan ditampilkan: mulai dari Yesus dijatuhi hukuman, memanggul salib, hingga momen penyaliban.

Baca Juga: MPV Rasa Wagon! Cek Harga Nissan Grand Livina L11 Bekas 2026, Mobil Keluarga Nyaman yang Sering Disalahpahami

Visualisasi yang dikenal sebagai tradisi Tablo itu berlangsung khidmat, bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang permenungan mendalam bagi umat.

Tradisi Tablo atau visualisasi Jalan Salib tersebut kembali digelar dan diyakini menjadi satu-satunya yang masih dilestarikan di gereja Katolik di Blitar tersebut.

Baca Juga: Harga Tetap Stabil! Ini Rahasia Toyota Avanza Generasi Pertama Masih Jadi Buruan di 2026, Mobil 'Busuk' yang Tak Bisa Rusak?

Prosesi ini menghadirkan gambaran perjalanan sengsara hingga wafatnya Yesus secara nyata sehingga umat dapat lebih menghayati makna pengorbanan yang terkandung di dalamnya.

Pastor rekan gereja setempat, Gregorius Dhani Driantoro menjelaskan, Tablo bukanlah tontonan layaknya drama biasa.

Baca Juga: Fenomena 'Kabin Gibah' hingga Suspensi Ambles, Mengapa Daihatsu Sigra Masih Jadi Mobil Terlaris Meski Terus Dihujat?

 Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana doa dan refleksi iman.

 “Ini bukan sekadar drama. Umat diajak untuk berdoa dan merenung, melihat bagaimana Yesus menjalani penderitaan sampai wafat di kayu salib,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (5/4).

Baca Juga: ⁠DPRD Kota Blitar Anjurkan ASN Pergi Kerja ke Kantor Naik Transportasi non-BBM

Menariknya, pemeran dalam Tablo tidak didominasi anak muda seperti yang lazim dibayangkan.

Justru, sebagian besar diperankan oleh umat yang sudah berusia lanjut.

Baca Juga: Bosan Sama Avanza? Lirik Suzuki Ertiga Generasi Pertama, Mobil Keluarga Rp100 Jutaan yang Nyaman dan Minim 'Ragat'

Meski tanpa proses casting profesional, setiap pemeran berupaya menghayati perannya secara maksimal.

“Yang penting bukan kesempurnaan akting, tetapi bagaimana mereka menghayati peran tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: Harga Tetap Stabil! Ini Rahasia Toyota Avanza Generasi Pertama Masih Jadi Buruan di 2026, Mobil 'Busuk' yang Tak Bisa Rusak?

Dalam prosesi tersebut, umat diajak menyelami tiga pesan utama.

Pertama, menyadari besarnya kasih Tuhan melalui pengorbanan Yesus.

Baca Juga: Bosan Sama Avanza? Lirik Suzuki Ertiga Generasi Pertama, Mobil Keluarga Rp100 Jutaan yang Nyaman dan Minim 'Ragat'

Kedua, mengajak umat untuk turut “memanggul salib” masing-masing yang dimaknai sebagai persoalan hidup, penderitaan, hingga ujian kehidupan.

Ketiga, menumbuhkan ketangguhan iman dengan meneladani Yesus yang tetap kuat meski menghadapi penderitaan berat.

 Baca Juga: Rekomendasi Laptop Bisnis Terbaik untuk Kemudahan Deployment Skala Perusahaan

Menurut Romo Dhani, visualisasi ini menjadi penting terutama bagi umat di lingkungan paroki yang masih berkembang.

Dia berharap tradisi ini mampu memperkuat iman umat agar tidak larut dalam rutinitas sehari-hari tanpa makna spiritual.

Baca Juga: Harga Tetap Stabil! Ini Rahasia Toyota Avanza Generasi Pertama Masih Jadi Buruan di 2026, Mobil 'Busuk' yang Tak Bisa Rusak?

“Harapannya, umat semakin kuat. Tidak hanya melihat penderitaan, tetapi belajar bangkit seperti Yesus yang jatuh dan bangkit kembali saat memanggul salib,” jelasnya.

Proses persiapan Tablo pun tidak lepas dari tantangan.

Baca Juga: Harga Tetap Stabil! Ini Rahasia Toyota Avanza Generasi Pertama Masih Jadi Buruan di 2026, Mobil 'Busuk' yang Tak Bisa Rusak?

Mulai dari membangun keseriusan pemeran hingga menjaga suasana tetap khusyuk.

Di awal latihan, suasana sempat cair dan penuh canda.

Baca Juga: Bosan Sama Avanza? Lirik Suzuki Ertiga Generasi Pertama, Mobil Keluarga Rp100 Jutaan yang Nyaman dan Minim 'Ragat'

 Namun, para pastor terus menekankan pentingnya penghayatan agar prosesi berjalan sesuai makna.

Lebih jauh, tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Paskah yang menjadi puncak perayaan iman umat.

Baca Juga: Rekomendasi Laptop Bisnis Terbaik untuk Kemudahan Deployment Skala Perusahaan

Tidak berhenti pada kisah wafat, umat diajak memahami makna kebangkitan sebagai simbol harapan dan kemenangan.

“Jangan berhenti pada kesedihan. Puncaknya adalah kebangkitan. Itu yang menjadi harapan iman,” tegasnya.

Baca Juga: Harga Tetap Stabil! Ini Rahasia Toyota Avanza Generasi Pertama Masih Jadi Buruan di 2026, Mobil 'Busuk' yang Tak Bisa Rusak?

Melalui Tablo, umat diajak tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan perjalanan iman secara lebih mendalam.

Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki “salib” masing-masing, namun tetap dapat dijalani dengan keteguhan, kekuatan, dan harapan.(*/c1/sub)

Editor : Oksania Difa Ilmada
#paskah #Tablo paskah #hari suci #Gereja Katolik Mojorejo #umat katolik