BLITAR KAWENTAR - Tablo atau visualisasi jalan salib masih terus dilestarikan oleh Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi di Desa Mojorejo, Kecamatan Wates, dan konon menjadi satu-satunya gereja yang tetap mempertahankan.
Bukan sekadar pertunjukkan teatrikal, melainkan juga bagian dari tradisi spiritual.
Baca Juga: Dianggap Kuno, Begini Cara Putri Batik Kota Blitar Ini Gaungkan Batik di Kalangan Anak Muda
Langkah kaki para pemeran itu berjalan perlahan menyusuri halaman Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi, Jumat (3/4).
Suasana hening menyelimuti cuaca cerah pagi itu.
Baca Juga: DPRD Kota Blitar Anjurkan ASN Pergi Kerja ke Kantor Naik Transportasi non-BBM
Lantunan doa yang lirih mengiringi mereka.
Satu per satu adegan ditampilkan: mulai dari Yesus dijatuhi hukuman, memanggul salib, hingga momen penyaliban.
Visualisasi yang dikenal sebagai tradisi Tablo itu berlangsung khidmat, bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang permenungan mendalam bagi umat.
Tradisi Tablo atau visualisasi Jalan Salib tersebut kembali digelar dan diyakini menjadi satu-satunya yang masih dilestarikan di gereja Katolik di Blitar tersebut.
Prosesi ini menghadirkan gambaran perjalanan sengsara hingga wafatnya Yesus secara nyata sehingga umat dapat lebih menghayati makna pengorbanan yang terkandung di dalamnya.
Pastor rekan gereja setempat, Gregorius Dhani Driantoro menjelaskan, Tablo bukanlah tontonan layaknya drama biasa.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana doa dan refleksi iman.
“Ini bukan sekadar drama. Umat diajak untuk berdoa dan merenung, melihat bagaimana Yesus menjalani penderitaan sampai wafat di kayu salib,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (5/4).
Baca Juga: DPRD Kota Blitar Anjurkan ASN Pergi Kerja ke Kantor Naik Transportasi non-BBM
Menariknya, pemeran dalam Tablo tidak didominasi anak muda seperti yang lazim dibayangkan.
Justru, sebagian besar diperankan oleh umat yang sudah berusia lanjut.
Meski tanpa proses casting profesional, setiap pemeran berupaya menghayati perannya secara maksimal.
“Yang penting bukan kesempurnaan akting, tetapi bagaimana mereka menghayati peran tersebut,” jelasnya.
Dalam prosesi tersebut, umat diajak menyelami tiga pesan utama.
Pertama, menyadari besarnya kasih Tuhan melalui pengorbanan Yesus.
Kedua, mengajak umat untuk turut “memanggul salib” masing-masing yang dimaknai sebagai persoalan hidup, penderitaan, hingga ujian kehidupan.
Ketiga, menumbuhkan ketangguhan iman dengan meneladani Yesus yang tetap kuat meski menghadapi penderitaan berat.
Baca Juga: Rekomendasi Laptop Bisnis Terbaik untuk Kemudahan Deployment Skala Perusahaan
Menurut Romo Dhani, visualisasi ini menjadi penting terutama bagi umat di lingkungan paroki yang masih berkembang.
Dia berharap tradisi ini mampu memperkuat iman umat agar tidak larut dalam rutinitas sehari-hari tanpa makna spiritual.
“Harapannya, umat semakin kuat. Tidak hanya melihat penderitaan, tetapi belajar bangkit seperti Yesus yang jatuh dan bangkit kembali saat memanggul salib,” jelasnya.
Proses persiapan Tablo pun tidak lepas dari tantangan.
Mulai dari membangun keseriusan pemeran hingga menjaga suasana tetap khusyuk.
Di awal latihan, suasana sempat cair dan penuh canda.
Namun, para pastor terus menekankan pentingnya penghayatan agar prosesi berjalan sesuai makna.
Lebih jauh, tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Paskah yang menjadi puncak perayaan iman umat.
Baca Juga: Rekomendasi Laptop Bisnis Terbaik untuk Kemudahan Deployment Skala Perusahaan
Tidak berhenti pada kisah wafat, umat diajak memahami makna kebangkitan sebagai simbol harapan dan kemenangan.
“Jangan berhenti pada kesedihan. Puncaknya adalah kebangkitan. Itu yang menjadi harapan iman,” tegasnya.
Melalui Tablo, umat diajak tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan perjalanan iman secara lebih mendalam.
Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki “salib” masing-masing, namun tetap dapat dijalani dengan keteguhan, kekuatan, dan harapan.(*/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada