BLITAR KAWENTAR - Di tepian Sungai Brantas itu, denyut kehidupan tak hanya mengalir bersama derasnya arus air, tetapi juga melalui jasa penyeberangan tradisional yang tetap bertahan di tengah perkembangan infrastruktur modern.
Di antara mereka, ada sosok pria yang telah mengabdikan diri selama 25 tahun sebagai penyedia jasa penyeberangan.
Baca Juga: Perlintasan Sebidang KA di Blitar Kembali Makan Korban, Polisi Masif Patroli Tekan Kecelakaan
Setiap hari, Sulin menarik tambatan tali untuk menggerakkan perahunya, mengantarkan warga dari satu sisi sungai ke sisi seberang.
Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari warisan keluarga yang telah dijalani secara turun-temurun.
Baca Juga: Tak Sabar Menunggu Bantuan, Warga Kota Blitar Pilih Pasang Mandiri Sambungan Listrik
Dia menyebut usaha penyeberangan tersebut bahkan sudah ada sejak masa kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
“Dari dulu memang sudah ada. Orang tua saya juga melakukan pekerjaan ini, jadi saya melanjutkan,” tutur pria 56 tahun ini.
Baca Juga: Waspada Ancaman Kekeringan di Blitar, BPBD Catat 23 Desa Rawan Terdampak
Di tengah hadirnya jembatan yang menghubungkan wilayah Blitar dan Tulungagung di sisi barat dan timur, jasa penyeberangan ini tetap memiliki tempat di hati sebagian masyarakat.
Bukan tanpa alasan, sejumlah pengendara memilih jalur alternatif melalui perahu karena dinilai lebih dekat dan efisien dibanding harus memutar melewati jembatan.
”Sebagian pengendara tidak ingin menempuh jalur yang memutar, jadi penyeberangan ini digunakan sebagai pilihan,” katanya.
Fenomena ini membuat perahu Sulin tetap beroperasi setiap hari.
Dia melayani berbagai kalangan, mulai dari warga yang hendak bekerja, pelajar, hingga pengendara sepeda motor yang ingin memangkas waktu tempuh.
Meski demikian, pekerjaan ini tidak lepas dari tantangan.
Perubahan debit air, terutama saat musim hujan, menjadi risiko tersendiri yang harus dihadapi.
Arus yang deras hingga material hanyut seperti kayu dan bambu kerap menguji kewaspadaan saat menyeberangkan penumpang.
”Memang terkadang kami harus libur operasioanal jika debit air sedang tinggi. Hal ini karena operasional dapat membahayakan penumpang jika dipaksakan,” terangnya.
Namun, bagi Sulin, semua itu sudah menjadi bagian dari keseharian yang dijalani dengan penuh kehati-hatian.
Dia memastikan keselamatan penumpang menjadi prioritas utama sebelum menyeberang.
”Yang penting penumpang selamat sampai tujuan. Kami juga sudah menyedikan perlengkapan keamanan,” ujarnya.
Keberadaan jasa penyeberangan ini menjadi bukti bahwa, di tengah kemajuan zaman, moda transportasi tradisional masih memiliki peran penting.
Selain menjadi alternatif mobilitas, keberadaannya juga menjaga denyut ekonomi masyarakat di sekitar bantaran sungai.
Di tangan Sulin, perahu penyeberangan itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol ketekunan dan keberlanjutan tradisi.
Sebuah pengingat bahwa di balik derasnya arus modernisasi masih ada kisah-kisah sederhana yang tetap bertahan dan mengalir bersama waktu.(*/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda