KAWENTARAN – Strategi ketahanan ternak dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis yang bersifat fluktuatif semakin diperkuat.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar akan fokus pada peningkatan kemampuan peternak dalam mendeteksi gejala awal penyakit pada hewan.
Langkah tersebut guna menjaga stabilitas produktivitas sektor peternakan yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, Lusia Adityaningtyas menjelaskan, ketahanan ternak sangat ditentukan oleh kepekaan peternak terhadap perubahan kondisi hewan peliharaan.
Baca Juga: Xpander vs Ertiga, Mana Lebih Nyaman? Intip Komparasi Fitur, Suspensi, hingga Value for Money!
Menurutnya, sejumlah penyakit seperti leptospirosis kerap berkembang secara perlahan namun berpotensi menimbulkan dampak serius jika tidak segera ditangani.
”Ketahanan ternak kita sangat bergantung pada seberapa cepat peternak menyadari adanya indikasi awal sakit.
Pada sapi, kambing, maupun hewan pendamping lainnya, gejala seperti demam tinggi, tubuh lemas, hingga penurunan nafsu makan yang drastis adalah ‘alarm’ biologis yang harus segera direspons,” ujarnya.
Disnakkan juga menyoroti infeksi zoonosis tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi turut memengaruhi aspek reproduksi dan produktivitas.
"Kasus keguguran pada ternak bunting serta penurunan produksi susu harian menjadi ancaman nyata yang dapat merugikan peternak secara ekonomi," ungkapnya.
Untuk itu, langkah pencegahan menjadi prioritas utama.
Peternak diimbau menjaga kebersihan kandang serta memastikan pakan yang diberikan tidak terkontaminasi oleh hama perantara seperti tikus.
Selain itu, pemisahan ternak yang menunjukkan gejala sakit juga dinilai penting untuk mencegah penyebaran penyakit.
”Upaya penguatan imunitas ternak dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi lingkungan secara ketat dan memastikan pakan tidak terkontaminasi oleh hama perantara seperti tikus.
Jika ditemukan ternak yang mulai lemas, segera pisahkan dari kelompoknya dan konsultasikan dengan petugas medis veteriner terdekat,” paparnya.
Melalui strategi ini, disnakkan berharap peternak di Kabupaten Blitar semakin mandiri dalam melakukan langkah preventif.
Deteksi dini yang didukung manajemen sanitasi yang baik diyakini mampu menekan risiko kerugian ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sektor peternakan di daerah.(kho/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar