BLITAR KAWENTAR - Fenomena quarter life crisis (QLC) kerap dialami kalangan anak muda yang tengah memasuki fase pencarian jati diri.
Kondisi ini dinilai sebagai hal yang wajar asalkan disikapi dengan cara yang tepat.
Menurut Shereen Putri Aurelia, QLC merupakan bagian dari proses kehidupan yang hampir dialami setiap individu.
“Saya yakin QLC adalah fase yang normal terjadi bagi siapa pun. Hanya saja, setiap individu punya cara masing-masing dalam menjalaninya,” ujar influencer muda ini.
Shereen mengaku menghadapi fase tersebut dengan belajar menerima keadaan dan lebih mengenal diri sendiri.
Dengan memahami potensi diri, seseorang dinilai dapat lebih fokus pada pengembangan diri tanpa harus membandingkan dengan orang lain.
Dia menilai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain justru menjadi salah satu faktor yang memperberat fase QLC.
Karena itu, dia mengajak generasi muda untuk mulai mengurangi kebiasaan tersebut.
”Tips untuk menghadapi masa sulit yakni dengan membangun pondasi diri yang kuat. Saya punya konsep “3M” yaitu menerima, mengoreksi, dan memperbaiki diri,” ungkapnya.
Dia mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidup.
Baca Juga: Ancaman Penyakit Zoonosis Jangan Dianggap Remeh, Peternak Blitar Harus Peka Deteksi Dini Pencegahan
Namun, kondisi tersebut dapat dilalui dengan mengontrol pikiran dan tidak larut dalam rasa kasihan terhadap diri sendiri.
Dalam proses tersebut, dukungan dari lingkungan seperti keluarga dan sahabat juga memiliki peran penting.
Baca Juga: Ancaman Penyakit Zoonosis Jangan Dianggap Remeh, Peternak Blitar Harus Peka Deteksi Dini Pencegahan
Shereen berpesan agar generasi muda tidak menyerah menghadapi fase QLC.
“Ini bukan akhir, tapi awal perjalanan hidup yang lebih besar. Lewati badainya, jemput pelanginya,” pungkasnya.(jar/c1/sub)