BLITAR KAWENTAR - Fenomena quarter life crisis (QLC) pada generasi muda kian menjadi sorotan.
Sosiolog dari Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar, Dimas Putra Wijaya, menilai kondisi ini dialami lebih intens oleh Gen Z dibanding generasi sebelumnya.
Menurutnya, perbedaan ini bukan karena generasi muda saat ini lebih lemah, melainkan karena kompleksitas tekanan sosial yang mereka hadapi jauh lebih besar.
“Gen Z hidup dalam era digital yang sangat terbuka.
Mereka sejak dini terpapar standar global, sehingga tekanan yang muncul bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga identitas, finansial, hingga eksistensi diri,” jelasnya.
Nah, media sosial (medsos) dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperparah fenomena QLC di kalangan anak muda.
Budaya flexing telah menciptakan realitas semu yang membentuk standar kesuksesan tidak realistis.
”Yang ditampilkan di medsos itu hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Baca Juga: Kecelakaan di Perlintasan Tanpa Palang Pintu KA di Wlingi Blitar Nyaris Renggut Pengemudi Minibus
Ini menciptakan constructed reality yang akhirnya dijadikan acuan oleh banyak anak muda,” ujarnya.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa di usia 25 tahun seseorang harus sudah mapan secara finansial dan memiliki karier stabil.
Padahal, kondisi tersebut tidak selalu sesuai dengan realitas di daerah.
Fenomena ini semakin diperparah dengan social comparison yang kini bersifat global dan terjadi terus-menerus.
”Dulu orang membandingkan diri dengan lingkungan sekitar. Sekarang dengan seluruh dunia. Ini memicu kecemasan karena individu merasa selalu kurang,” kata dosen sosiologi di UNISBA Blitar ini.
Dia menambahkan, kondisi ini berpotensi memicu gangguan kecemasan, krisis kepercayaan diri, hingga penurunan motivasi pada generasi muda.(sub/c1)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly