Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dampak Budaya Flexing Anak Muda di Medsos Menurut Kacamata Sosiolog Muda Blitar

M. Subchan Abdullah • Kamis, 9 April 2026 | 14:44 WIB
Fenomena quarter life crisis (QLC) pada generasi muda kian menjadi sorotan
Fenomena quarter life crisis (QLC) pada generasi muda kian menjadi sorotan

BLITAR KAWENTAR - Fenomena quarter life crisis (QLC) pada generasi muda kian menjadi sorotan.

Sosiolog dari Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar, Dimas Putra Wijaya, menilai kondisi ini dialami lebih intens oleh Gen Z dibanding generasi sebelumnya.

Baca Juga: Komparasi MPV Terbaru: Adu Irit, Nyaman, dan Fitur, Ini Juara Sebenarnya dari Xenia, Xpander, Mobilio, dan Ertiga!

Menurutnya, perbedaan ini bukan karena generasi muda saat ini lebih lemah, melainkan karena kompleksitas tekanan sosial yang mereka hadapi jauh lebih besar.

“Gen Z hidup dalam era digital yang sangat terbuka.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Mobil MPV Bekas Rp100 Jutaan, dari Avanza hingga Xpander, Pilihan Terbaik untuk Keluarga!

Mereka sejak dini terpapar standar global, sehingga tekanan yang muncul bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga identitas, finansial, hingga eksistensi diri,” jelasnya.

Nah, media sosial (medsos) dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperparah fenomena QLC di kalangan anak muda.

Baca Juga: Perbedaan SUV dan MPV yang Sering Disalahpahami: Ini Fakta Penting yang Wajib Diketahui Sebelum Beli Mobil!

Budaya flexing telah menciptakan realitas semu yang membentuk standar kesuksesan tidak realistis.

”Yang ditampilkan di medsos itu hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Baca Juga: Kecelakaan di Perlintasan Tanpa Palang Pintu KA di Wlingi Blitar Nyaris Renggut Pengemudi Minibus

Ini menciptakan constructed reality yang akhirnya dijadikan acuan oleh banyak anak muda,” ujarnya.

Akibatnya, muncul anggapan bahwa di usia 25 tahun seseorang harus sudah mapan secara finansial dan memiliki karier stabil.

Baca Juga: Xpander vs Ertiga vs Veloz 2026: Adu Nyaman LMPV Terlaris, Siapa Pemenang Suspensi dan Akomodasi Paling Lega?

Padahal, kondisi tersebut tidak selalu sesuai dengan realitas di daerah.

Fenomena ini semakin diperparah dengan social comparison yang kini bersifat global dan terjadi terus-menerus.

Baca Juga: Xpander vs Ertiga, Mana Lebih Nyaman untuk Mudik? Adu Lega Kabin 7 Penumpang hingga Rahasia "Lantai Ajaib" di Bagasi!

”Dulu orang membandingkan diri dengan lingkungan sekitar. Sekarang dengan seluruh dunia. Ini memicu kecemasan karena individu merasa selalu kurang,” kata dosen sosiologi di UNISBA Blitar ini.

Dia menambahkan, kondisi ini berpotensi memicu gangguan kecemasan, krisis kepercayaan diri, hingga penurunan motivasi pada generasi muda.(sub/c1)

Editor : Muhammad Adib Falih Rifly
#generasi muda #quarter life crisis #genz #fenomena flexing