BLITAR KAWENTAR - Dunia perkopian berkembang lumayan pesat di Blitar belakangan tahun terakhir ini.
Kondisi itu dibuktikan dengan makin menjamurnya kafe di sejumlah wilayah, bahkan pelosok desa.
Perlombaan seduh kopi terus digalakkan tiap tahun, bahkan tiap bulan, guna meningkatkan kapasitas barista serta literasi masyarakat.
Aroma kopi yang hangat menyeruak sejak langkah pertama memasuki sudut Selasar Kopi.
Senin (6/4) siang itu, suasana kafe tampak berbeda dari biasanya.
Deretan alat seduh kopi berjajar rapi di atas meja.
Baca Juga: Kurang dapat Motivasi, Guru Sekolah di Blitar Ini Harus Jemput Siswanya untuk Ikut TKA
Para barista berdiri dengan serius, menakar bubuk kopi, mengatur suhu air, hingga menuangkan air panas secara perlahan.
Itulah potret gelaran lomba seduh kopi bertajuk Marathon Battle Pour Over yang kembali digelar tahun ini.
Suasana kompetisi terasa hangat sekaligus tegang.
Satu per satu peserta maju, mempraktikkan teknik pour over dengan penuh konsentrasi.
Gerakan tangan mereka halus nyaris seperti ritual.
Air panas dituangkan memutar di atas bubuk kopi, menciptakan aroma yang menggoda.
Para juri mengamati setiap detail, mulai dari teknik seduh hingga hasil akhir dalam cangkir.
Panitia lomba, Ahrian Festyananda, menjelaskan bahwa perkembangan dunia perkopian di Blitar saat ini terbilang pesat.
Hal itu ditandai dengan semakin menjamurnya kafe, baik di pusat kota hingga pelosok desa.
“Sekarang kafe tidak hanya di tengah kota, tapi juga sudah masuk ke pinggiran bahkan pedesaan,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya para barista.
Dari situlah, ide lomba seduh kopi ini terus digalakkan.
Bahkan, konsep yang diusung cukup unik yakni maraton atau berpindah dari satu kafe ke kafe lain setiap bulan.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi gerakan untuk meningkatkan industri kopi di Blitar sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kopi,” jelasnya.
Lomba Marathon Battle Pour Over sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak 2018.
Namun sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Tahun ini, kegiatan tersebut kembali dihidupkan sekaligus menjadi ajang silaturahmi atau halalbihalal para pelaku usaha kopi.
Sebanyak 36 peserta ambil bagian dalam kompetisi ini.
Mayoritas merupakan barista lokal Blitar.
Mereka ditantang menyajikan kopi terbaik menggunakan metode pour over, seperti V60, chemex, atau Kalita wave.
Dalam penilaian, juri tidak hanya melihat teknik, tetapi juga kualitas rasa.
Kopi yang dinilai baik adalah yang memiliki keseimbangan rasa—tidak terlalu pahit, tidak membuat mati rasa, dan memiliki sedikit rasa manis alami.
Selain itu, sensasi setelah diminum juga menjadi pertimbangan.
“Kopi yang bagus itu bukan yang bikin haus atau kering di mulut, tapi justru terasa ringan dan nyaman,” terang Ahrian.
Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini menjadi ruang belajar bersama.
Para peserta saling bertukar pengalaman, berdiskusi, hingga mengasah kemampuan.
Hal ini penting untuk meningkatkan literasi kopi, baik bagi barista maupun penikmat kopi.
Berdasarkan data Asosiasi Kopi Blitar, saat ini setidaknya ada sekitar 90 kafe yang berdiri di kota ini.
Angka tersebut menunjukkan geliat industri kopi yang terus tumbuh.
Ahrian berharap, melalui kegiatan seperti ini, kualitas barista di Blitar semakin meningkat.
Tidak hanya piawai menyeduh, tetapi juga memahami karakter kopi secara mendalam.
”Harapannya, barista di Blitar tidak hanya sekadar menyeduh, tapi juga punya pengetahuan dan rasa yang kuat tentang kopi. Harapannya, kopi Blitar juga bisa naik kelas,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly